Cerita Panas Sex Hot Terbaru

Cerita panas ini membahas berbagai cerita sex yang juga termasuk yang hot dan cerita Terbaru

Cerita Panas
Agen Bola

Agen Bola dan Judi bola

Agen Bola dan Judi bola online

Cerita Panas Yuni dan Ningsih ABG Yang Seksi

Posted by admin 0 Responses

Cerita panas ini merupakan sebuah cerita sex yang terjadi pada tahun dulu, memang keelokkan gadis ini tak bisa di ragukan lagi selain cantik mereka juga sangat seksi dengan payudara yang menonjol kedepan banget. Seperti telah kuceritakan di atas, aku sudah tiga tahun ikut dengan keluarga Budhe. Saat itu usiaku sudah 15 tahunan dan Mbak Ningsih yang usianya tiga tahun di atasku sudah kelas 3 di salah satu SMK swasta di kotaku. Pada saat itulah aku pertama kali mengenal apa yang namanya seks.

Kejadiannya berawal dari suatu siang kira-kira setengah tahun setelah meninggalnya Budhe Harti. Saat itu sekolahku dipulangkan sebelum waktu biasanya. Semua murid dipulangkan pada jam 10 pagi karena guru-guru mengadakan rapat untuk persiapan EBTA. Aku yang selalu disiplin tidak pernah bermain sebelum pulang dan ganti pakaian. Begitu sekolah dibubarkan aku langsung pulang ke rumah yang jaraknya kira-kira 2 km dengan naik angkot.

Sampai di rumah aku heran karena pintu rumah tidak terkunci tetapi tidak ada orang. Padahal tadi pagi sebelum berangkat Mbak Ningsih bilang kalau sekolahnya libur selama 6 hari karena minggu tenang. Aku menduga pasti Mbak Ningsih sedang belajar di kamar menjelang EBTA yang akan diadakan minggu depan. Karena takut mengganggu Pakdhe yang mungkin sedang tidur aku berjalan pelan-pelan melintasi ruang tengah langsung ke kamarku dan Mbak Ningsih yang ada bagian belakang.

Aku kaget saat mendengar suara mencurigakan terdengar dari kamarku yang setengah terbuka. Kudengar suara Mbak Ningsih mengerang-ngerang disertai suara seperti berkecipak. Dengan langkah mengendap-endap kudekati pintu kamarku dan mengintip melalui pintu yang setengah terbuka. Astaga!! Aku benar-benar kaget!! Ternyata di kamarku ada Mbak Ningsih dan Pakdhe. Yang lebih mengejutkan, pakaian keduanya sudah berantakan. Saat itu pakaian bagian atas Mbak Ningsih sudah terbuka sama sekali, begitu pula dengan Pakdhe Mitro. Keduanya sedang bergumul di atas tempat tidur yang biasa kugunakan tidur dengan Mbak Ningsih. Pakdhe hanya mengenakan sarung dan satu-satunya kain yang menutupi tubuh Mbak Ningsih hanyalah celana dalam saja.

Apa yang kulihat benar-benar membuat hatiku tercekat. Kulihat Pakdhe dengan rakus meneteki payudara Mbak Ningsih kanan dan kiri berganti-ganti, sementara tangan Mbak Ningsih meremas-remas rambut Pakdhe yang sudah mulai memutih. Kepala Mbak Ningsih bergoyang-goyang sambil terus mengerang. Begitu pula dengan Pakdhe yang dengan lahap terus menetek kedua payudara Mbak Ningsih secara bergantian.

Aku yang mengintip perbuatan mereka menjadi panas dingin dibuatnya. Tubuhku gemetar dan lututku lemas. Hampir saja kepalaku terbentur daun pintu saat aku berusaha melihat apa yang mereka perbuat lebih jelas. Tak lama kemudian kulihat Pakdhe menarik satu-satunya pembungkus yang melekat di tubuh Mbak Ningsih dan melemparkannya ke lantai. Kini tubuh Mbak Ningsih sudah telanjang bulat di bawah dekapan tubuh Pakdheku yang kelihatan masih berotot walau usianya sudah kepala lima.

Erangan Mbak Ningsih semakin keras saat kulihat wajah Pakdhe menyuruk ke selangkangan Mbak Ningsih yang terbuka. Tangan Mbak Ningsih yang memegang kepala Pakdhe kulihat semakin kuat menekan ke arah kemaluannya yang sedang diciumi Pakdhe. Aku yang baru kali ini melihat pemandangan seperti itu menjadi terangsang. Aku membayangkan seolah-olah tubuhku yang sedang digumuli Pakdhe.

Kedua kaki Mbak Ningsih melingkar di leher Pakdhe. Suara napas Pakdhe terdengar sangat keras seperti kerbau. Mbak Ningsih semakin keras mengerang dan tubuhnya kulihat melonjak-lonjak saat kulihat wajah Pakdhe menggesek-gesek bagian selangkangan Mbak Ningsih. Beberapa saat kemudian tubuh Mbak Ningsih mulai melemas dan terdiam.

Kemudian kulihat Pakdhe melepas sarungnya. Dan astaga! Kulihat batang kemaluan Pakdhe yang sangat besar dan berwarna coklat kehitaman mengacung tegak menantang langit. Pakdhe langsung mengangkangi wajah Mbak Ningsih dan mengosek-ngosekan batang kemaluannya yang dipeganginya ke wajah Mbak Ningsih.

Mbak Ningsih yang masih lemas kulihat mulai memegang batang kemaluan Pakdhe dan menjulurkan lidahnya menjilati batang kemaluan itu. Pakdhe pun kembali menyurukkan wajahnya ke arah selangkangan Mbak Ningsih. Kini posisi mereka sungguh lucu. Mereka saling menjilati selangkangan lawan dengan posisi terbalik.

Pakdhe yang mengangkangi wajah Mbak Ningsih menjilati selangkangan Mbak Ningsih yang telentang dengan lutut tertekuk dan paha terbuka. Tubuhku mulai meriang. Vaginaku terasa gatal seolah-olah membayangkan kalau vaginaku sedang diciumi Pakdhe. Tanpa sadar tanganku bergerak ke arah vaginaku sendiri dan mulai menggaruk-garuk.

Kejadian yang kulihat berikutnya membuat hatiku semakin mencelos. Setelah puas saling menciumi selangkangan masing-masing lawan, tubuh Pakdhe berbalik lagi sejajar dengan Mbak Ningsih. Mereka saling berhadap-hadapan dengan tubuh Pakdhe menindih Mbak Ningsih.

Kemudian kulihat Pakdhe menempatkan diri di antara kedua paha Mbak Ningsih yang mengangkang. Lalu dengan memegang batang kemaluannya Pakdhe menggosok-gosokkan ujung batang kemaluannya ke selangkangan Mbak Ningsih. Kulihat kepala Mbak mendongak-dongak ke atas dengan kedua tangan meremas-remas payudaranya sendiri saat Pakdhe mendorong pantatnya dan menekan ke arah selangkangan Mbak Ningsih. Mereka terdiam beberapa saat ketika tubuh mereka pada bagian kemaluan saling lengket satu sama lain.

Mbak Ningsih mulai merintih dan mengerang saat Pakdhe mulai memompa pantatnya maju-mundur dengan mantap. Kulihat pantat Mbak Ningsih bergerak mengayun menyambut setiap dorongan pantat Pakdhe. Dan setiap kali tulang kemaluan Mbak Ningsih dan Pakdhe beradu selalu terdengar seperti suara tepukan. Suara deritan dipan tidurku pun semakin nyaring terdengar mengiringi irama gerakan mereka.

Tubuh Mbak Ningsih menggelepar-gelepar semakin liar. Kepalanya pun semakin liar bergerak ke kanan dan kekiri, mulutnya tak henti-hentinya mengerang. Akhirya kudengar Mbak Ningsih merintih panjang disertai tubuhnya yang tersentak-sentak, pantatnya terangkat menyambut dorongan pantat Pakdhe. Lalu beberapa detik kemudian tubuh Mbak Ningsih mulai melemas, tangannya terlempar melebar ke samping kanan-kiri tubuhnya dan matanya terpejam.

Pakdhe lalu menarik pantatnya dan kulihat dari arah ku yang persis di samping kirinya, batang kemaluan Pakdhe yang hitam kecoklatan masih kencang. Kemudian Pakdhe menarik tubuh Mbak Ningsih agar merangkak di kasur. Dengan bertumpu pada lututnya, Pakdhe menempatkan diri di belakang pantat Mbak Ningsih yang menungging. Pakdhe memegang batang kemaluannya dan mengarahkannya ke belahan pantat Mbak Ningsih.

Kulihat kepala Mbak Ningsih terangkat saat Pakdhe mulai mendorong pantatnya. Kembali kulihat pantat Pakdhe mengayun dari depan ke belakang dengan posisi Mbak Ningsih merangkak dan Pakdhe berlutut di belakang pantat Mbak Ningsih. Batang kemaluan Pakdhe kelihatan dari tempatku berdiri saat Pakdhe menarik pantatnya dan hilang dari penglihatanku saat ia mendorong pantatnya. Aku yang mengintip menjadi tidak tahan lagi. Tanganku secara refleks mulai menyusup kedalam celana dalam memegang vaginaku dan meremas-remasnya. Vaginaku mulai basah oleh cairan. Jari tangahku kutekankan pada daerah sensitifku dan kugerakkan memutar.

Kudengar Pakdhe mulai menggeram. Tangannya meremas payudara Mbak Ningsih yang berayun-ayun seirama dengan dorongan pantat Pakdhe yang menyodok-nyodok Mbak Ningsih. Gerakan Pakdhe semakin cepat dan geramannya semakin keras. Mbak Ningsih pun mengimbangi gerakan ayunan pantat Pakdhe dengan memutar-mutar pantatnya. Gerakan mereka semakin liar. Derit dipan kayu pun kudengar semakin keras. Lalu keduanya merintih panjang.

Tubuh keduanya yang menyatu mengejat-ngejat. Kepala keduanya seolah-olah terhantam sesuatu hingga mendongak ke atas. Lalu tubuh Pakdhe ambruk dan menindih Mbak Ningsih yang ambruk tengkurap di kasur. Aku pun merasa ada sesuatu yang meledakdi bawah perutku. Tubuhku seperti melayang dan akhirnya aku merasa lemas.

Aku yang takut ketahuan melihat perbuatan keduanya segera berjingkat-jingkat dan keluar rumah pergi ke rumah Rina sahabat paling eratku di kelas. Aku baru pulang setelah jam 13.30 saat aku biasa pulang.

Sampai di rumah aku pura-pura bersikap seperti biasa. Aku bersikap seolah-olah tidak mengetahui perbuatan Mbak Ningsih dan Pakdhe tadi pagi. Selama beberapa hari itu pikiranku selalu terganggu dengan bayangan apa yang dilakukan Mbak Ningsih dengan Pakdheku di kamarku ini.

[Kegadisanku Direnggut Pakdhe]

Aku sudah mulai dapat melupakan kejadian yang kulihat antara Mbak Ningsih dengan Pakdheku karena kesibukanku mempersiapkan EBTA. Begitu EBTA selesai aku mendapatkan liburan sambil menunggu pengumuman. Saat itu waktuku lebih banyak kuluangkan di rumah membersihkan rumah dan menyetrika serta membantu Mbak Ningsih memasak.

Suatu hari, aku harus berada sendirian di rumah dengan Pakdhe. Mbak Ningsih mengikuti acara darma wisata ke Selecta yang diadakan sekolahnya sebagai acara perpisahan. Mbak Ningsih sudah berangkat saat pagi-pagi buta. Aku yang sedang libur harus menggantikan Mbak Ningsih menyiapkan sarapan buat Pakdhe. Setelah membuat minuman teh untukku dan satu cangkir khusus untuk Pakdhe aku segera menyapu halaman.

Aku menyempatkan diri meminum tehku sebelum pergi ke kamar mandi. Teh yang kuminum rasanya agak lain, tapi aku tidak begitu curiga. Saat mandi itulah aku merasa ada yang agak aneh dengan tubuhku. Tubuhku terasa panas dan jantungku berdebar-debar. Rasa aneh menyergapku. Vaginaku terasa berdenyut-denyut dan ada rasa aneh menyerbu diriku. Tubuhku terasa gerah sekali.

Kusiram seluruh tubuhku dengan air dingin agar rasa gerahku hilang. Apa yang kulakukan ternyata cukup menolong. Tubuhku merasa segar sekali. Lalu kigosok seluruh tubuhku dengan sabun. Rasa aneh itu kembali menyerang diriku, apalagi saat aku menyabuni daerah selangkanganku yang baru mulai ditumbuhi rambut satu-satu. Aku merasa ada dorongan birahi yang begitu kencang. Aku tidak tahu mengapa ini terjadi. Tiba-tiba anganku melayang pada apa yang kulihat beberapa hari yang lalu saat Mbak Ningsih dan Pakdhe Marto bergumul di kamarku.

Cepat-cepat kubuang pikiran itu jauh-jauh dan segera menyelesaikan acara mandi pagiku. Hanya dengan tubuh terbalut handuk, aku lari masuk kamarku. Aku selalu berganti pakaian di kamarku sambil mematut-matut diriku di depan cermin sambil mengamati seluruh tubuhku yang mulai berubah. Bulu-bulu kemaluan sudah mulai tumbuh di gundukan bukit kemaluanku.

Dadaku yang dulu rata kini mulai tumbuh dengan puting yang sebesar kacang kedelai dengan warna merah muda. Pinggulku mulai tumbuh membesar. Kata orang aku seksi dan menarik. Apalagi tinggi badanku sudah mencapai 160 cm. Aku sendiri selalu betah berlama-lama di depan cermin dengan melenggak-lenggokkan tubuhku memandang dari segala sisi dan mengagumi tubuhku. Aku sangat bangga dengan tubuhku.

Baru saja aku mengunci pintu kamarku aku dikejutkan dengan pelukan tangan yang kokoh menyergapku. Aku tidak sempat menjerit karena tiba-tiba sosok yang memelukku langsung membekap mulutku dengan tangannya yang kokoh. Belum hilang terkejutku, handuk yang melilit tubuhku ditarik seseorang dan jatuh teronggok ke lantai. Aku benar-benar bugil tanpa sehelai kainpun menutupi tubuhku.

Kembali rasa aneh yang menyerangku semakin menggelora. Ada dorongan hasrat yang menggebu-gebu dalam diriku. Aku tak mampu meronta dan menjerit! Tangan yang kokoh dan berbulu tetap membekap mulutku sementara tangan satu lagi memeluk tubuh telanjangku. Mataku semakin nanar menerima perlakuan seperti itu. Apalagi kurasakan sentuhan kulit tubuh telanjang menempel hangat di punggungku. Pantatku yang telanjang terasa menekan suatu benda panjang melingkar dan keras di balik kain tipis.

Aku semakin tak mampu menahan gejolak liar yang mulai bangkit dalam diriku saat sapuan-sapuan lidah panas mulai menyerbu tengkukku. Aku menggelinjang kegelian dan melenguh. Lidah itu semakin liar bergerak menyusuri leherku.. pundakku.. Lalu turun ke bawah ke sepanjang tulang punggungku. Aku semakin menggelinjang. Lidah itu terus merayap ke bawah dan pinggangku mulai dijilati. Kakiku serasa lemah tak bertenaga. Aku hanya pasrah saat tubuhku didorong ke tempat tidurku dan dijatuhkan hingga aku tengkurap di tempat tidurku. Tubuhku lalu ditindih oleh sesosok tubuh yang sangat berat.

Kakiku mulai memberontak liar karena geli. Apalagi lidah itu dengan rakus mulai menjilati pinggulku. Pantatku terangkat saat mulut berkumis itu mulai menggigiti buah pantatku dengan gemas. Pantatku terangkat-angkat liar saat lidah panas itu mulai menyusup ke dalam celah-celah bongkahan pantatku dan mulai menjilati lubang anusku. Aku benar-benar seperti terbang mengawang. Aku belum tahu siapa yang memelukku dari belakang dan menggerayangi seluruh tubuhku. Aku hanya bisa merasakan dengusan napas panas yang menghembus di bongkahan pantatku saat lidah itu mulai menjilati lubang anusku.

Aku tercekik kaget saat tubuhku dibalik hingga telentang telanjang bulat di kasurku. Ternyata orang yang sedari tadi menggumuliku adalah Pakdhe Mitro, orang yang selama ini kuanggap sebagai pengganti orang tuaku. Aku tak tak mampu berteriak karena mulutku langsung dibekap dengan bibirnya. Lidahku didorong dorong dan digelitik. Aku terangsang hebat. Apalagi sejak minum teh tadi tubuhku terasa agak aneh. Seolah-olah ada dorongan menghentak-hentak yang menuntut pemenuhan.

Tubuhku menggelinjang saat tangan kekar dan agak kasar mulai meraba dan meremas kedua payudaraku yang baru mulai tumbuh. Lalu kedua kakiku dipentangkan oleh Pakdhe Mitro lebar-lebar, lalu Pakdhe menindih tubuhku yang sudah telanjang bulat di antara kedua pahaku yang terkangkang. Aku merasa ada benda keras seperti tongkat yang menekan ketat ke bukit kemaluanku di balik kain sarung yang dikenakan Pakdhe.

Mulut dan lidah Pakdhe tak henti-hentinya menjilat dan melumat setiap jengkal bagian tubuhku. Dari mulutku, bibir Pakdhe bergeser menjilati seluruh batang leherku, kemudian turun ke dua belah payudaraku. Tubuhku semakin menggerinjal saat lidah dan mulut Pakdhe dengan rakusnya melumat kedua puting payudaraku yang baru sebesar kacang kedelai. Disedotnya payudaraku hingga hampir seluruhnya masuk ke dalam mulut Pakdhe Mitro. Aku sangat terangsang dan sudah tidak mampu berpikir jernih. Ada sesuatu yang mulai menggelora dan mendesak-desak di perut bagian bawahku.

Lidah Pakdhe terus merayap semakin ke bawah. Perutku menjadi sasaran jilatan lidahnya. Tubuhku semakin menggelinjang hebat. Akal sehatku sudah benar-benar hilang. Kobaran napsu sudah menjeratku. Pantatku terangkat tanpa dapat kucegah saat lidah Pakdhe terus merayap dan menjliati gundukan bukit kemaluan di selangkanganku yang mulai ditumbuhi rambut-rambut halus. Aku merasa kegelian yang amat sangat menggelitik selangkanganku.

Tubuhku serasa mengawang di antara tempat kosong saat lidah Pakdhe mulai menyelusup ke dalam bukit kemaluanku dan menggelitik kelentitku. Lubang kemaluanku semakin berdenyut-denyut tergesek gesek lidahnya yang panas. Aku hanya mampu menggigit bibirku sendiri menahan rasa geli yang menggelitik selangkanganku. Tubuhku semakin melayang dan seperti terkena aliran listrik yang maha dahsyat.

Aku tak mampu lagi menahan gelora napsu yang semakin mendesak di dalam perutku. Pantatku terangkat seperti menyongsong wajah Pakdhe yang menekan bukit kemaluanku. Lalu tubuhku seperti terhempas ke tempat kosong. Aku merasakan ada sesuatu yang meledak di dalam perut bagian bawahku. Tubuhku menggelepar dan tanpa sadar kujepit kepala Pakdhe dengan kedua kakiku untuk menekannya lebih ketat menempel selangkanganku.

Belum sempat aku mengatur napas tiba-tiba mulutku sudah disodori batang kemaluan Pakdhe Mitro yang tanpa kutahu sejak kapan sudah melepas sarungnya dan sudah telanjang bulat mengangkangi wajahku. Batang kemaluannya yang besar, hitam panjang dan tampak mengkilat mengacung di depan wajahku seperti hendak menggebukku kalau aku menolak menciuminya.

Dengan rasa jijik aku terpaksa menjulurkan lidahku dan mulai menjilati ujung topi bajanya yang mengkilat. Aku hampir muntah saat lidahku menyentuh cairan lendir yang sedikit keluar dari lubang kemaluan Pakdhe. Namun jepitan kedua paha Pakdhe di sisi wajahku tidak memberiku kesempatan lain.

Aku hanya mampu pasrah dengan tetap menjilati batang kemaluan Pakdhe. Lalu dengan paksa Pakdhe membuka mulutku dan menjejalkan batang kemaluannya ke dalam mulutku. Aku menjadi gelagapan karena susah bernapas. Batang kemaluannya yang besar memenuhi mulutku yang masih kecil.

Kudengar Pakdhe menggumam tanpa jelas apa yang diucapkannya. Pantatnya digerak-gerakannya hingga batang kemaluannya yang masuk ke dalam mulutku mulai bergerak keluar masuk di dalam mulutku. Aku hampir tersedak saat ujung kemaluan Pakdhe menyentuh-nyentuh kerongkonganku. Aku hanya mampu melotot karena hampir tersedak. Tanpa sadar kedua tanganku mencengkeram pantat Pakdhe Mitro.

Setelah puas "mengerjai" mulutku dengan batang kemaluannya, Pakdhe menggeser tubuhnya dan menindihku lagi dengan posisi sejajar. Kedua pahaku dikuaknya dan dengan tangannya, dicucukannya batang kemaluannya ke arah bukit kemaluanku. Aku merasa geli saat ujung kemaluan Pakdhe mulai menggesek-gesek pintu lubang kemaluanku yang sudah basah. Dari rasa geli dan nikmat, tiba-tiba aku merasa perih di selangkanganku saat Pakdhe mulai menurunkan pantatnya sehingga batang kemaluannya mulai menerobos ke dalam lubang kemaluanku yang masih perawan. Aku merintih kesakitan dan air mataku mulai mengalir. Aku tersadar akan bahaya! Namun terlambat. Pakdhe yang sudah sangat bernafsu sudah tidak mungkin mau berhenti. Ia hanya sejenak menghentikan gerakannya. Ia merayuku dan mengatakan kalau sakitku hanya sebentar dan berganti rasa nikmat yang tidak terkira.

Pakdhe menarik pantatnya ke atas hingga batang kemaluannya yang terjepit di dalam lubang kemaluanku tertarik keluar. Gesekan batang kemaluannya yang besar di dalam dinding lubang kemaluanku menimbulkan rasa nikmat seperti apa yang dikatakannya. Aku mulai dapat menikmati rasa nikmat itu. Ini mungkin karena pengaruh teh yang kuminum sehingga aku benar-benar belum sadar akan bahaya yang kuhadapi. Yang kuinginkan hanya satu yaitu menuntaskan gejolak yang meledak-ledak dalam diriku.

Aku kembali merintih kesakitan saat Pakdhe mulai menekan pantatnya lagi yang membuat batang kemaluannya menerobos lebih dalam ke dalam lubang kemaluanku. Lagi-lagi Pakdhe membisikiku kalau rasa sakit itu akan hilang dengan sendirinya. Ia menarik lagi pantatnya. Benar.. Rasa sakit itu berganti nikmat saat batang kemaluannya ditarik keluar hingga hanya ujung kepalanya saja yang masih terjepit dalam lubang kemaluanku.

Lubang kemaluanku yang sudah sangat licin sangat membantu pergerakan batang kemaluan Pakdhe dalam jepitan lubang kemaluanku. Detik-detik berlalu dan sedikit-demi sedikit batang kemaluan Pakdhe meneronos semakin dalam ke dalam lubang kemaluanku. Pakdhe terus menarik dan mendorong pantatnya dengan pelan dan teratur. Hingga suatu saat aku menggigit bibirku keras-keras saat selangkanganku terasa perih sekali. Selangkanganku terasa robek saat Pakdhe menekan pantatnya hingga batang kemaluannya hampir masuk separuh ke dalam lubang kemaluanku.

Aku sempat menjerit menahan sakit yang amat sangat di selangkanganku. Pakdhe segera menghentikan gerakannya dan memberiku kesempatan untuk bernapas. Aku merasa lega saat Pakdhe menghentikan gerakannya. Kini aku dapat merasakan lubang kemaluanku seperti terganjal benda keras dan hangat. Benda itu berdenyut-denyut dalam jepitan lubang kemaluanku.

Kembali rasa sakit yang tadi menyentakku berangsur mulai hilang tergantikan rasa nikmat saat batang kemaluan Pakdhe yang semakin lancar mulai bergerak lagi keluar masuk dalam jepitan lubang kemaluanku. Rasa nikmat terus meningkat sehingga tanpa sadar aku menggoyangkan pantatku untuk segera meraih kenikmatan yang lebih banyak lagi.

Aku seperti gila. Rasa sakit itu sudah benar-benar hilang tergantikan rasa nikmat yang benar-benar memabukkan. Pakdhe semakin bersemangat mengayunkan pantatnya menghunjamkan batang kemaluannya. Empat kali mendorong lalu didiamkan dan diputar kemudian ditarik lagi. Tanpa sadar pantatku terangkat saat Pakdhe menarik pantatnya.

Berkali-kali Pakdhe mengulang gerakannya hingga perutku terasa kejang. Tubuhku mulai melayang. Tanganku semakin kuat mencengkeram punggung Pakdhe untuk mencoba menahan kenikmatan yang mulai menerjangku. Pakdhe semakin kuat mengayunkan pantatnya diiringi geramannya yang kudengar bergemuruh di telingaku.

Mataku semakin membeliak menahan desakan yang kian dahsyat di perut bagian bawahku. Aku hampir menjerit saat ada sesuatu yang kurasa pecah di dalam sana. Namun bibir Pakdhe yang tiba-tiba melumat bibirku menghentikan teriakanku. Pakdhe melumat dengan rakus kedua belah bibirku. Aku merasa tubuhku seolah-olah terhempas di awan. Tubuhku mengejat-ngejat saat aku mencapai puncak pendakian yang melelahkan. Pakdhe yang bibirnya masih melumat bibirku pun mulai berkelojotan di atas perutku. Lalu ia menggeram dengan dahsyat..

Dan akhirnya kurasakan ada semburan cairan hangat yang memancar dari batang kemaluan Pakdhe yang terjepit dalam lubang kemaluanku. Batang kemaluannya berkedut-kedut dalam jepitan lubang kemaluanku. Tubuh Pakdhe masih bergerak dengan liar selama beberapa saat lalu ambruk menindihku. Napas ku hanya tinggal satu-satu. Napas Pakdhe pun kudengar menggemuruh di telingaku.

Air mataku mengalir saat kusadari segalanya telah terlambat bagiku. Kegadisanku telah terenggut oleh Pakdhe. Orang yang selama ini kuanggap sebagai pengganti ayahku. Lalu dengan lembut Pakdhe mengusap air mataku dan berjanji akan menyayangiku sepanjang sisa hidupnya. Aku menjadi agak terhibur dengan perkataannya. Sejak kegadisanku hilang, aku menjadi pendiam. Keceriaan yang selama ini menjadi ciri khasku seolah-olah hilang sirna. Aku menjadi sangat berubah. Selangkanganku masih terasa sakit hingga beberapa hari setelah kejadian itu.

Mbak Ningsih yang selama ini sangat memperhatikanku sangat heran melihat perubahan yang terjadi pada diriku. Akhirnya aku mengaku terus terang kepada Mbak Ningsih tentang kejadian yang menimpaku. Ia hanya menghela napas merasa prihatin akan musibah yang kualami.

Kira-kira satu bulan sejak aku dinodai Pakdheku, Mbak Ningsih minta pamit kepadaku dan juga Pakdheku. Mbak Ningsih setelah lulus SMK diterima bekerja di sebuah perusahaan swasta di daerah Malang dan pindah ke Malang. Sehingga sejak saat itu aku yang baru masuk SMU harus tinggal berdua saja dengan Pakdhe.

Suatu hari, kira-kira seminggu sejak kepergian Mbak Ningsih, saat itu aku sedang mencuci pakaianku dan pakaian Pakdhe. Hari itu sekolahku libur karena tanggal merah jadi aku bersih-bersih rumah. Pakdhe seperti biasanya merapikan tanaman di halaman depan yang sudah mulai tumbuh tidak teratur.

Setelah kuselesaikan cucianku dan kujemur, aku berniat mandi. Baru saja mau menutup pintu kamar mandi, tiba-tiba tangan Pakdhe mengganjal pintu kamar mandi dan menyerobot masuk. Aku tidak sempat berteriak karena tiba-tiba Pakdhe sudah memelukku. Tubuhnya yang hanya tertutup celana kolor dan sudah basah penuh keringat memelukku erat-erat. Aku tidak berani berteriak karena diancam kalau tidak mau melayani nafsunya aku akan diusir dari rumah itu dan tidak dibiayai sekolahku. Aku merasa takut sekali dengan ancamannya hingga dengan air mata yang kutahan aku pasrah akan apa yang dilakukan Pakdhe padaku.

Tangan Pakdhe dengan cekatan melucuti dasterku, bra-ku lalu celana dalamku hingga aku benar-benar bugil. Tanpa membuang waktu Pakdhe segera melepas kolornya dan telanjang bulat. Batang kemaluannya yang berwarna hitam kecoklatan masih mengkerut dan menggantung lunglai. Kemudian Pakdhe duduk di tepi bak mandi keramik dengan kaki yang terbuka. Ditariknya tubuh telanjangku ke dalam pelukannya dan dilumatnya bibirku dengan rakusnya.

Mulutku masih tertutup saat lidah Pakdhe mulai mencoba menerobos masuk ke dalam mulutku. Karena tidak tahan dengan sapuan-sapuan lidahnya yang mendesak-desak bibirku, akhirnya bibirku pun terbuka. Pakdhe segera menyusupkan lidahnya ke dalam mulutku dan mendorong-dorong lidahku. Mula-mula aku diam saja, namun lama-kelamaan aku jadi terangsang juga. Apalagi batang kemaluan Pakdhe yang tadinya mengkerut perlahan-lahan mulai mengembang dan mengganjal perutku. Aku mulai bereaksi. Lidahku tanpa sadar membalas dorongan lidah Pakdhe.

Tubuhku mulai menggerinjal dalam pelukan Pakdhe saat tangan Pakdhe mulai menggerayangi buah pantatku. Tangan Pakdhe dengan gemas meremas dan memijat buah pantatku lalu ditariknya tubuhku hingga semakin ketat lengket dalam pelukannya.

Setelah puas memainkan lidahnya dalam mulutku, tangan Pakdhe menekan kepalaku hingga aku disuruhnya berlutut di depan selangkangannya. Batang kemaluannya yang sudah keras nampak mengacung tegak di depan wajahku. Ditariknya wajahku ke selangkangannya dan disuruhnya mulutku menciumi batang kemaluannya itu. Dengan agak risi aku terpaksa membuka mulutku dan mulai menciumi batang kemaluannya yang sudah mengeluarkan sedikit cairan.

Kepalaku didorong maju mundur oleh tangan Pakdhe yang mencengkeram rambutku hingga batang kemaluannya mulai bergeser keluar masuk dalam mulutku. Kerongkonganku tersodok-sodok ujung kepala kemaluan Pakdhe yang keluar masuk dalam mulutku. Kudengar napas Pakdhe mulai menggebu. Batang kemaluannya semakin mengeras dalam kuluman mulutku.

Mungkin karena tak tahan, Pakdhe segera menarik tubuhku agar berdiri lalu mendudukanku di sisi bak mandi. Mulutnya segera mencecar payudaraku kanan dan kiri silih berganti. Aku menggelinjang hebat manakala mulut Pakdhe dengan rakusnya mempermainkan kedua puting payudaraku. Tangan Pakdhe pun tak tinggal diam. Tangannya mulai merayap ke selangkanganku yang terbuka lebar dan mulai meremas gundukan bukit kemaluanku.

Aku sampai megap-megap mendapat rangsangan seperti itu. Aku semakin tersiksa oleh gejolak nafsu. Mulut Pakdhe lalu merayap menyusuri perutku dan mulai menjilati gundukan bukit kemaluanku. Dikuakkanya kedua bibir kemaluanku dengan jari-jarinya lalu disusupkannya lidahnya ke dalam lubang kemaluanku.

Tubuhku yang duduk di sisi bak mandi hampir saja terjatuh karena menggelinjang saat lidah Pakdhe mulai menggesek-gesek dinding lubang kemaluanku. Tanpa sadar tanganku mencengkeram rambut Pakdhe dan menekankan kepalanya agar lebih ketat menekan bukit kemaluanku.

Aku semakin blingsatan menahan rangsangan yang diberikan Pakdhe di selangkanganku. Tanpa sadar mulutku mendesis-desis dan dudukku bergeser tak karuan. Perutku mulai mengejang menahan desakan gejolak yang meledak-ledak. Tubuhku terasa mulai mengawang dan pandangan mataku nanar. Akhirnya dengan diiringi rintihan panjang aku mencapai orgasmeku.

Belum sempat aku mengatur napas tiba-tiba Pakdhe sudah berdiri di hadapanku. Batang kemaluannya yang keras dicocokkan ke bibir kemaluanku dan digesek-gesekkannya ujung kepala kemaluannya ke bibir kemaluanku yang sudah basah dan licin. Aku menggelinjang lagi saat benda hangat itu mulai menerobos masuk ke dalam bibir kemaluanku. Bibir Pakdhe Mitro dengan rakusnya mulai melumat bibirku sambil mendorong pantatnya hingga batang kemaluannya semakin melesak ke dalam jepitan bibir kemaluanku.

Aku masih duduk di bibir bak mandi sementara Pakdhe Mitro menggenjot lubang kemaluanku sambil berdiri. Mungkin karena kesulitan bergerak, dicabutnya batang kemaluannya dari jepitan bibir kemaluanku. Tubuhku lalu diturunkan dari bibir bak mandi dan dibaliknya hingga aku berdiri dengan tangan bertumpu bak mandi. Lalu Pakdhe menempatkan diri di belakangku dan mulai mencoba memasukan batang kemaluannya ke dalam bibir kemaluanku dari celah bongkahan pantatku.

Punggungku didorong Pakdhe agar sedikit membungkuk hingga setengah menungging. Dipentangkanya kedua kakiku lebar-lebar lalu dicucukannya batang kemaluannya ke gundukan bukit kemaluanku. Setelah arahnya tepat, Pakdhe mulai mendorong pantatnya hingga kembali batang kemaluannya menerobos masuk dalam jepitan bibir kemaluanku.

Kembali aku mulai merasa ada suatu benda hangat menyeruak ke dalam lubang kemaluanku. Dinding-dinding lubang kemaluanka serasa dikilik-kilik. Batang kemaluan Pakdhe yang terjepit ketat dalam lubang kemaluanku berdenyut-denyut. Pakdhe yang napasnya mulai memburu semakin kuat mengayunkan pantatnya maju mundur hingga gesekan batang kemaluannya pada dinding lubang kemaluanku semakin cepat.

Pinggulku yang dipegang Pakdhe terasa agak sakit karena jari-jari Pakdhe mulai mencengkeram. Pinggulku ditarik dan didorong oleh tangan kuat Pakdhe seiring dengan ayunan pantatnya. Tubuhku mulai terhentak dan aku mulai limbung. Kembali aku merasa melayang karena desakan gejolak yang meledak-ledak. Pakdhe semakin kuat mengayunkan pantatnya dan napasnya semakin menderu.

Pantatku yang ditarik dan didorong Pakdhe maju mundur semakin cepat bergerak. Cengkeraman jari-jari Pakdhe semakin terasa di pinggulku. Gerakan ayunan pantat Pakdhe semakin tak terkendali. Tak lama kemudian aku kembali mencapai orgasmeku. Pakdhe pun kukira mencapai puncak kenikmatannya karena aku merasa ada semburan cairan hangat yang menyemprot dari batang kemaluan Pakdhe ke dalam lubang kemaluanku dengan diiringi geraman yang keluar dari mulut Pakdhe.

Pakdhe tetap membiarkan batang kemaluannya terjepit dalam lubang kemaluanku selama beberapa saat. Napasnya yang mulai teratur terasa hangat menerpa kulit pipiku. Tulang kemaluannya menekan kuat di bukit buah pantatku. Aku merasa sedikit geli karena rambut kemaluan Pakdhe menempel ketat dan menggesek buah pantatku. Batang kemaluan Pakdhe yang masih keras terasa berdenyut-denyut dalam jepitan lubang kemaluanku. Setelah menyemprotkan sisa-sisa air maninya batang itu mulai mengendur dan terlepas dengan sendirinya.

Tubuhku sudah terasa lemas tak bertenaga. Aku hanya memejamkan mata karena lemas dan malu karena untuk kedua kalinya aku berhasil digagahi Pakdheku sendiri. Aku membiarkan saja saat Pakdhe memandikanku seperti bayi. Tangannya yang kokoh menyabuni seluruh lekuk tubuhku. Tubuhku kembali menggerinjal saat tangannya yang kokoh mulai menyabuni payudaraku yang baru mulai tumbuh. Putingku yang mencuat dipermainkannya dengan gemas.

Tubuhku semakin menggelinjang saat tangannya mulai menyentuh perutku lalu meluncur turun dan mulai menyabuni gundukan bukit kemaluanku yang baru mulai ditumbuhi rambut satu-satu. Jari-jarinya menyisir celah sempit di tengah gundukan bukit kemaluanku dan berlama-lama menyabuni daerah itu.

Aku tak berani memandang Pakdhe saat ia mengangsurkan sabun ke tanganku dan menyuruhku menyabuninya. Dengan agak kaku tanganku mulai menyabuni punggung Pakdhe yang kekar. Tanganku bergerak hingga seluruh punggung Pakdhe kugosok merata dengan sabun. Lalu Pakdhe membalikkan tubuhnya menghadapku. Tangannya mengelus-elus kedua payudaraku sementara aku disuruhnya menyabuni tubuh bagian depannya.

Tanganku bergerak dari dada terus turun ke arah perut. Napas Pakdhe mulai memburu saat tanganku yang dilumuri busa sabun mulai menggosok bagian bawah perutnya. Batang kemaluannya yang tadi kendur sudah mulai mengembang. Tanganku yang agak ragu dipegang Pakdhe dan diarahkan untuk menyabuni daerah kemaluan Pakdhe. Rambut kemaluannya sangat lebat tumbuh di pangkal batang kemaluannya yang mulai berdiri setengah tegak dan mengeras. Lucu sekali kelihatannya seperti pistol namun "gombyok". Ya!! Kelihatannya seperti pistol gombyok!! Seperti pistol tapi lebat ditumbuhi rambut atau gombyok!! Pakdhe yang sudah mulai terangsang segera menyuruhku menyelesaikan acara saling memandikan. Hanya dengan berbalut handuk, tubuhku yang masih agak basah ditariknya dari kamar mandi dan diseret masuk ke kamar Pakdhe. Pakdhe pun hanya mengenakan kolornya yang tadi dipakainya hingga batang kemaluannya yang sudah setengah keras tampak membusung di balik kolor seragamnya.

Baru saja pintu ditutup, tubuhku sudah langsung disergapnya. Diloloskannya handuk yang melilit tubuhku hingga aku telanjang bulat. Pakdhe segera melepas kolornya dan bugil dihadapanku. Mulut Pakdhe segera menyergap bibirku dan melumatnya dengan rakus. Kedua payudaraku segera menjadi bulan-bulanan remasan tangannya hingga tubuhku menggelinjang dalam dekapannya.

Tanganku segera dibimbing Pakdhe dan dipegangkannya ke batang kemaluannya yang sudah semakin mengembang. Bibir Pakdhe yang rakus meulai bergeser turun dari bibirku ke dagu, lidahnya menjilat-jilat daguku terus turun ke leherku hingga aku semakin menggelinjang karena kumisnya yang pendek dan kasar menggaruk-garuk batang leherku.

Aku semakin mendesis karena kini bibir Pakdhe sudah mulai melumat kedua puting payudaraku kanan dan kiri secara bergantian. Tanganku secara tak sadar bergerak mengurut dan meremas "pistol gombyok" Pakdhe. Napas Pakdhe pun semakin menderu dan semakin keras menghembus di kedua payudaraku. Jilatannya semakin liar di seluruh bukit payudaraku tanpa terlewatkan sejengkalpun.

Batang kemaluan Pakdhe yang semakin keras mulai berdenyut-denyut dalam genggaman tanganku. Sementara tangan Pakdhe mulai bergerak liar menyusuri penggungku dan turun ke bawah lalu berhenti di kedua pantatku dan meremas-remas kedua buah pantatku dengan gemasnya. Aku sangat terangsang. Ya.. Mungkin daerah kelemahanku adalah pada buah pantatku dan pada kedua puting payudaraku. Tubuhku sudah mulai mengawang dan sudah pasrah bersandar dalam pelukan Pakdhe.

Mengetahui kalau tubuhku sudah tersandar sepenuhnya dalam pelukannya, Pakdhe segera mendorong tubuhku ke kasurnya hingga aku berbaring telentang. Ditindihnya tubuh telanjangku oleh tubuh kekar Pakdhe. Dibentangkannya kedua kakiku lebar-lebar dan aku kembali digumuli Pakdheku. Lidah Pakdhe kembali menyerbu bibirku lalu bergeser ke leherku.

"Pistol gombyok" Pakdhe yang sudah sangat keras mengganjal di perut bagian bawahku. Rambut kemaluannya yang gombyok sangat terasa menggesek-gesek perutku menimbulkan rasa geli.

Lidah Pakdhe menjilat-jilat seluruh batang leherku hingga aku mendesis-desis kegelian. Tubuhku semakin menggelinjang menahan geli saat lidahnya mulai bergeser turun dan menyapu-nyapu sekeliling bukit payudaraku di sekitar putingku. Tubuhku semakin menggerinjal saat lidah Pakdhe yang panas mulai menyapu-nyapu puting payudaraku. Tubuhku serasa semakin melayang.

Lidah Pakdhe terus bergeser ke bawah. Pusarku dijilatnya dengan rakus lalu lidahnya mulai bergerak turun ke perut bagian bawahku. Otot-otot perutku terasa seperti ditarik-tarik saat bibir Pakdhe menyedot-nyedot daerah sekitar perut bagian bawahku di atas pangkal pahaku. Geli sekali rasanya, apalagi kumisnya yang pendek dan kasar menyeruduk-nyeruduk kulit perutku yang halus.

Pakdhe lalu membalik tubuhnya. Wajahnya menghadap selangkanganku sementara "pistol gombyok"nya dihadapkan ke wajahku. Diturunkannya pantatnya hingga batang kemaluannya menempel bibirku. Dibimbingnya "pistol gombyok"nya ke mulutku. Aku tahu aku harus membuka mulutku menyambut "pistol gombyok" Pakdhe yang dijejalkan ke dalam mulutku. Dengan terpaksa aku mulai mengulum "pistol gombyok" Pakdhe dan menjilati seluruh ujung topi bajanya yang mengkilat.

Tubuhku terhentak saat mulut Pakdhe mulai melumat bibir kemaluanku. Kedua tangannya menarik kedua bibir lubang kemaluanku dan membukanya lebar-lebar lalu lidahnya yang panas didorong keluar masuk kedalam lubang kemaluanku. Aku semakin mendesis-desis menahan nikmat. Napas Pakdhe yang semakin menggebu sangat terasa meniup-niup lubang kemaluanku yang terbuka lebar.

Tanpa sadar pantatku terangkat ke atas seolah menyambut dorongan lidah Pakdhe yang menggesek-gesek kelentitku. Gerakan lidahnya yang liar seolah membuatku semakin gila. Tanpa dapat kucegah lagi, mulutku merintih dan mendesis menahan gejolak kenikmatan yang meledak-ledak. Batang kemaluan Pakdhe yang menyumpal mulutku tak mampu menahan desisan yang keluar dari mulutku.

Mataku kembali nanar. Perutku terasa kejang.. Dorongan gejolak liar yang mendesak di perut bagian bawahku sudah hampir tak dapat kutahan lagi. Lalu dengan diiringi rintihan panjang tubuhku menggelepar dan berkelojotan seperti ayam disembelih. Tubuhku lalu melayang dan terhempas di tempat kosong. Akhirnya tubuhku terdiam beberapa saat. Aku telah mencapai orgasme yang ke sekian di pagi itu.

Tubuhku terasa lemas tak bertenaga. Aku hanya pasrah saat Pakdhe yang telah mencabut batang kemaluannya dari kuluman mulutku bangkit dan duduk di sisi pembaringan mengangkat tubuhku dan mendudukanku di pangkuannya. Tubuhku dihadapkannya ke dirinya dan kakiku dipentangkannya hingga aku terduduk mengangkang dipangkuannya dengan saling berhadapan. Kemudian tangan Pakdhe mengarahkan batang kemaluannya ke celah bukit kemaluan di selangkanganku.

Bless!! Aku terhenyak saat pantatku diturunkan dan ada suatu benda keras dan hangat mengganjal di lubang kemaluanku. Nikmat sekali rasanya. Seluruh dinding lubang kemaluanku terasa berdenyut-denyut. Kelentitiku yang sudah membengkak tergesek nikmat pada pangkal batang kemaluan Pakdhe. Lain sekali rasanya bersetubuh dengan posisi begini. Aku merasa sangat terangsang! Kelentitku serasa tergesek penuh pada batang kemaluan Pakdhe.

Dengan dibantu kedua tangan Pakdhe yang menyangga kedua buah pantatku tubuhku bergerak naik turun di pangkuan Pakdhe. Payudaraku yang baru tumbuh bergetar bergoyang-goyang seiring dengan naik turunnya tubuhku di pangkuan Pakdhe. Batang kemaluan Pakdhe yang menancap ketat dalam jepitan lubang kemaluanku terasa menggesek nikmat seluruh dinding lubang kemaluanku yang terus berdenyut-denyut meremas apa saja yang menyumpalnya.

Tubuhku terasa menggigil bergetar saat mulut Pakdhe tak tinggal diam. Mulut Pakdhe dengan rakusnya melumat kedua puting payudaraku bergantian. Mulutnya menyedot buah dadaku sepenuhnya. Gerakanku menjadi kian liar. Desakan gejolak birahi semakin mendesak. Aku mempercepat gerakanku naik turun dengan diselingi sedikit memutar saat seluruh batang kemaluan Pakdhe masuk hingga ke pangkalnya ke dalam jepitan lubang kemaluanku.

Karena tak tahan lagi tanpa sadar kudorong tubuh Pakdhe hingga terbaring telentang di kasur dengan kedua kaki menjuntai ke lantai. Tubuhku yang tadi di pangku Pakdhe menjadi duduk seperti seorang joki yang sedang naik kuda balap berpacu dalam birahi dengan menduduki Pakdhe yang berbaring telentang. Gerakanku kian bebas. Dengan tangan bertumpu pada dada Pakdhe yang bidang aku terus menggerakan pantatku memutar dan maju mundur. Kelentitiku kian ketat tergesek batang kemaluan Pakdhe.

Tanga Pakdhe yang memegang kedua pantatku semakin ketat mencengkeram dan membantu mempercepat gerakanku. Aku merasa tubuhku kembali mulai mengawang. Gerakanku kian tak terkendali. Mataku mulai membeliak dan mulutku menceracau tak karuan. Puncak pendakian kian dekat.. Kian dekat..

Dan akhirnya dengan merintih panjang tubuhku berkejat-kejat seperti sedang terkena aliran listrik. Lubang kemaluanku berdenyut-denyut saat ada sesuatu yang pecah di dalam sana.. Tubuhku berkejat-kejat beberapa saat lalu ambruk di atas perut Pakdhe. Aku benar-benar tak bertenaga. Ya akibat pistol gombyok Pakdhe aku mencapai orgasme yang kesekian kalinya. Luar biasa Pakdhe ku ini. Walaupun sudah tua namun mampu membuat aku yang masih ABG begini bertekuk lutut.

Pakdhe yang rupanya belum mencapai orgasme segera membalikkan tubuhku dengan tanpa melepaskan batang kemaluannya yang masih menancap dalam jepitan lubang kemaluanku. Sekarang tubuhku yang telentang gantian digenjot Pakdhe. Aku yang sudah tak bertenaga hanya pasrah. Pakdhe dengan semangat juang terus menggenjot selangkanganku dengan tusukan-tusukan batang kemaluannya. Pistol gombyoknya tanpa ampun menghajar lubang kemaluanku.

Perlahan-lahan napsuku mulai bangkit lagi menerima tusukan-tusukan pistol gombyok Pakdhe. Dengan sisa-sisa tenaga yang masih ada aku berusaha menyambut setiap tusukan pistol gombyok dengan menggoyangkan pantatku ke kanan dan kiri.

Napas Pakdhe semakin memburu dan terdengar menggemuruh menghembus ke payudaraku yang dilumat bibir rakus Pakdhe. Genjotan Pakdhe semakin kuat dan bertubi-tubi. Desakan gejolak yang mendesak dalam tubuhku semakin menguat. Aku sudah hampir tak kuat lagi menahan desakan itu. Tubuhku kembali mengejang. Pantatku terangkat dan dengan merintih panjang aku mencapai puncak pendakian yang sangat melelahkan.

Tubuhku terhempas di tempat kosong dan pandangan mataku makin nanar. Aku merasa betapa di saat-saat itu tubuh Pakdhe yang menindih perutku mulai bergetar. Mulutnya menggeram dahsyat dan pantatnya menekan kuat-kuat menghunjamkan pistol gombyoknya ke dalam jepitan lubang kemaluanku. Tubuh Pakdhe berkejat-kejat lalu aku merasa ada semprotan cairan hangat menyiram di dalam lubang kemaluanku. Ada rasa berdesir menyergapku saat semprotan itu menyembur ke liang rahimku. Tubuh Pakdhe tersentak-sentak lalu ambruk di atas perutku.

Sungguh melelahkan pergumulan di pagi itu. Akhirnya aku tertidur karena terlalu lelah. Pagi itu Pakdhe benar-benar melampiaskan seluruh hasratnya pada tubuhku. Dari pagi hingga malam aku tidak dibiarkannya mengenakan pakaian utuh. Aku disetubuhi berkali-kali hari itu hingga selangkanganku terasa ngilu karena digenjot Pakdhe.

Sejak kepergian Mbak Ningsih aku menjadi pelampiasan napsu Pakdhe. Minimal satu kali dalam satu minggu Pakdhe pasti minta jatah dariku. Selama tiga tahun aku menjadi budak napsu pistol gombyok Pakdhe hingga aku lulus SMU.

Tiga tahun aku harus menjalani kehidupan sebagai sasaran tembak "pistol gombyok" Pakdhe. Ternyata hal seperti itu dialami juga oleh Mbak Ningsih. Dia bercerita kalau dulu pertama kali diperawani Pakdhe dirinya tidak sadar. Untuk selanjutnya ia juga diancam tidak akan dibiayai sekolah dan diusir kalau tidak mau memenuhi keinginan Pakdhe.

Lalu setelah aku lulus, atas kebaikan Mbak Ningsih aku kuliah di salah satu PTS di kota Solo. Untuk menambah biaya karena tidak ingin terlalu memberatkan Mbak Ningsih aku terjun ke dunia pelacuran. Ya.. Akhirnya aku menjadi pelacur untuk membiayai kuliahku. Aku berjanji akan berhenti dari dunia ini setelah aku mempunyai cukup bekal.

Sep
5
2011

Cerita Panas Nasib Malang Mahasiswi Yang Manis

Posted by admin 0 Responses

Cerita panas ini adalah pengalaman baru di cerita sex yang pernah aku tulis kemaren, kali ini ada cerita lagi yang pernah di alami oleh salah satu temanku yang memang memberanikan diri untuk bercerita tentang pribadi dia yang di alaminya dahulu. Sungguh malang nasib ita,mahasiswi yang berwajah manis dan bertubuh mungil itu harus mengalami nasib yang tragis.dia diperkosa bergilir oleh teman kampusnya.ita yang kuliah disebuah kampus di kota "P" memang memiliki kesempurnaan tubuh yang mampu memikat siapa saja dari kaum adam wajahnya yang manis,tubuh yang padat berisi,postur mungilnya serasi dengan sepasang payudara yang bulat dan tidak terlalu besar serta rambut pendek sebahu semakin menambah kecantikannya.sifatnya yang mudah bergaul memungkinkan dia banyak teman baik cewe atau cowo.dikampus dan pergaulannya dia sering mengenakan jilbab,walau begitu jika sedang dirumah dia tak berjilbab dan berpakain santai seperti cewe kebanyakan. Kejadiam bermula pada hari sabtu siang ketika ita baru saja pulang dari kampus dan hendak beristirahat.tiba-tiba hp miliknya berdering.dilayar tercantum nama doni.dia adalah teman kampus ita. "halo don,ada apa?".sapa ita. "holo juga,ga aku cuma mau ngajak kamu belajar bareng dirumahku!"jawab doni. "sama sapa aja?" tanya ita lagi. "sama aku,heri,tio,agus terus evi,ika sama tika juga ikut".jelas doni. Karna merasa ada cewe lain yang ikut akhirnya ita pun mengiyakan ajakan doni. Sekitar pukul 3 sore dia menuju rumah doni yang berjarak tak jauh dari kost-kostan ita.dia mengenakan jilbab hitam serta kaus lengan panjang berwarna merah muda serta celana jeans yang makin membuat lekuk tubuhnya terlihat walau dia berjilbab. Berapa saat kemudian ita sampai dirumah doni disana sudah ada agus,tio dan heri namun dia belum melihat ada cewe yang datang. "eh kalian dah nyampe,mana vivi sama yang lain?"tanya ita. Mereka tak menjawab pertanyaan ita.agus langsung bangkit dan mengunci pintu sedangkan tio,heri dan doni menghampiri ita yang berdiri kebingungan. "eh,apa-apaan ini?apa yang akan kalian lakukan?".ita mulai panik dengan keadaan ini. "tenang sayang,kita akan bersenang senang sampai pagi!"doni menimpali ita dengan senyum yang aneh. Sementara tio dan heri mulai menghampiri ita dan memegang kedua tangan ita.agus langsung maju dan memeluk ita dan memaksa memagut bibir mungil ita.tio dan heri mulai bergerilya dipayudara mungil ita yang menawan.doni tak mau kalah dia memeluk ita dari belakang tangannya bergerilya kedaerah selangkangan ita,mengelus vagina ita dari luar.doni mulai mencari retsleting celana jeans ita untuk membukanya.ita tak bisa berbuat apa-apa karena kedua tangannya dipegang erat oleh tio dan heri.sementara agus yan memagut bibirnya membuat dia susah bernafas. Akhirnya doni berhasil membuka celana jeans milik ita dan menurunkannya sampai batas mata kaki.doni kembali berdiri dan kembali meraba vagina ita.kali ini dia langsung menyentuh vagina ita melalui celah CD warna krem milik ita. "wah,memek kamu anget banget,jembutnya juga halus!".komentar doni. Tio dan heri tak mau kalah mereka mulai melucuti kaos yang dikenakan ita,agus pun berhenti memagut ita untuk memudahkan tio dan heri membuka kaos ita.kiti ita berdiri dengan jilbab dan bh serta cd saja,dikelilingi oleh 4 pria yang menatapnya dengan buas seolah-olah siap menghabisi mangsanya. "bener-bener mulus nih cewe,susunya juga montok".komentar heri. Ita yang merasa risih langsung menyilangkan kedua tangannya untuk menutup payudara dan vaginanya. "wah,jangan malu-malu gitu dong,kamu khan cantik".timpal tio. Kemudian agus mendekat dan memeluk tubuh ita tangannya bergerilya dipunggung ita untuk mencari pengait bh ita.kemudian tanpa ragu-ragu agus membuka bh hitam milik ita.semua pria menatap kagum pada payudara ita yang ranum dengan pentil merah muda yang terlihat begitu segar dan menggoda. Tanpa komando mereka mengerubuti tubuh bugil ita.doni dan agus berbagi payudara ita sementara tio melepas cd ita dan mulai memainkannya dia menjilat dan membuka vagina ita dengan kedua jarinya tak lupa dia juga menggosok klitoris mungil milik ita.sementara tio memeluk ita dari belakang dan mencium bibir ita dengan semangat.beberapa kali mereka berpindah peran hingga semua mencicipi bibir,payudara,vagina dan pantat sekal ita.entah sudah berapa kali ita orgasme,tubuhnya terasa lemas.mungkin jika tak ditopang oleh agus,ita sudah jatuh lemas.seluruh tubuhnya basah oleh keringat yang semakin memancarkan aroma khas yang menggoda pria disekitarnya.mereka sudah merasakan cairan vagina ita yang manis dan gurih,sudah hampir 30 menit mereka menggerayangi ita diruang tamu dalam posisi berdiri.hingga akhirnya doni mengambil gelang besi yang terikat tambang.kemudian dia memasangkan gelang itu dikaki kanan ita,kemudian doni menarik tambang dan memaksa ita yang lemah untuk melangkah.doni membawa ita ke kamarnya.disana ada tempat tidur yang cukup luas.kemudian doni memasang gelang lagi dikedua tangan ita kemudian mengaitkan dengan tambang untuk menggantungkan ita.kembali ita akan diperkosa dalam keadaan berdiri.kini kondisinya lebih parah karena tangannya terikat keatas yang semakin mengekspos keindahan tubuhnya.ketiaknya juga menjadi daya tarik tersendiri Kini keempat pria itu sudah bugil,ita semakin takut diapun memejamkan mata dan meneteskan air mata.dia tak sanggup membayangkan bagaimana nasibnya nanti.jilbab hitam milik ita masih setia menemaninya walau sudah acak-acakan. "saatnya ngentot memek".suara heri menggentarkan hati ita yang tak berdaya. Kembali mereka mendekati tubuh ita,agus mejelajahi wajah dan leher ita sebelum akhirnya berhenti dibibir mungil ita.sementara doni dan tio berbagi payudara ita,sedangkan heri duduk dibawah diantara selangkangan ita kemudian mengangkat kedua kaki ita yang tergantung keatas pundaknya kemudian dengan rakusnya dia menjilati vagina perawan ita yang masih berbentuk garis lurus dan ditumbuhi sedikit rambut halus diatasnya.mereka terus menyerbu tubuh mungil nan mulus milik ita hingga tak terhitung berapa kali ita orgasme dan berapa kali mereka orgasme yang jelas kini tubuh ita penuh dengan sperma milik keempat pria tersebut,setelah hampir 1 setengah jam mereka menggerayangi ita mereka mulai lemas,merekapun beristirahat dan membiarkan tubuh ita tergantung lemas dengan telapak kaki agak menjijit tak sampai dilantai.melihat ada karet gelang dan jepit jemuran ide mesum agus tiba-tiba muncul. "kayaknya kalo pentil sama itil kamu dikasih ini pasti tambah cantik". Kata agus sambil mendekati ita. Ita tak percaya dan menggelengkan kepala tanda tak setuju. "jangan,tolong jangan please...."ucap ita penuh iba agar agus tak melakukan hal itu. Namun hal itu tak berpengaruh pada agus dia mendekati ita dan menyingkap ujung jilbabnya yang menutupi sebagian payudaranya.agus mulai mengikat puting ita dengan karet kemudian menjepitnya dengan jepitan jemuran.sungguh pedih sekali,itapun kembali menitikan air mata menahan sakit.sementara tio,doni dan heri hanya tertawa menyaksikan keisengan temannya sambil masing2 memegang penisnya untuk onani.namun itu belum selesai,agus kemudian jongkok dan membuka bibir vagina milik ita dengan jarinya untuk mencari klitorisnya.setelah ketemu tanpa permisi agus langsung menjepitkan penjepit jemuran di klitoris mungil ita.yang terdengar selanjutnya adalah erangan memilukan dari mulut ita yang menahan sakit dan perih,namun hal itu justru menjadi lagu yang merdu penuh nafsu bagi agus dan kawan kawan.setelah selesai mengerjai ita,agus kembali duduk dilantai bersama tio dan yang lainnya sambil menatap diri ita yang tergantung tak berdaya dengan jilbab hitam dan airmata yang terus mengalir serta penjepit jemuran dipayudara dan vagina ita. "gimana rasanya memek sama payudara dijepit gitu?sakit ga?"celoteh tio. Ita hanya menunduk dan memejamkan matanya. Hampir 20 menit digantung dengan puting dan klitoris dijepit membuat ita lemas dan mati rasa. "eh,siapa nih yang dapet memek perawan punya ita?". Suara tio tersebut jelas menimbulkan rasa takut pada diri ita.menyadari dirinya akan kehilangan keperawanannya dengan tragis. "ya gue dulu lah,kan gue yang punya rumah".protes doni. "tapi kan gue yang punya ide".jelas tio. Akhirnya merekapun berdiskusi hingga akhirnya heri memberi usul. "gimana kalo kita main kartu aja yang menang duluan berarti yang dapet memek ita pertama". Merekapun menyetujuinya,akhirnya mereka melepaskan ikatan ita kemudian merebahkannya dilantai keramik.mereka hendak mejadikan ita sebagai "meja"permainan kartu mereka.dinginnya lantai keramik begitu terasa menusuk ditubuh ita,setelah itu mereka berempat mulai duduk mengelilingi ita.doni disamping kanannya sementara tio disebelah kirinya kemudian heri berada diatas kepala ita dan agus berada diantara selangkangan ita.permainan pun dimulai,ditengah permainan mereka juga mencuri-curi kesempatan untuk menjamah tubuh ita bahkan doni dan tio yang berada disamping ita menuntun ita untuk memainkan penis mereka masing-masing.doni dan tio merasakan nikmat yang luar biasa ketika tangan mulus ita menyentuh penis mereka.beberapa saat kemudian,heri menang disusul doni tio kemudian agus.itu artinya herilah yang beruntung menyicipi vagina ita untuk pertama kalinya. Tanpa basa-basi heri menyeret ita keranjang empuk milik doni.disinilah heri akan mengambil keperawanan ita disaksikan oleh ketiga temannya. Heri langsung menindih tubuh mungil ita,dada heri menindih payudara ita yang padat berisi,penisnya bergerilya dipermukaan vagina ita.heri mengerang nikmat dan memandangi wajah ita yang sedang memejamkan mata merasa ketakutan.jilbab hitamnya sudah lecek dan basah oleh airmata,keringat dan sperma mereka berempat. Heri mulai mencari lubang vagina ita untuk dimasuki oleh penisnya,mulutnya masih mencium bibir ita serta tangannya meremas payudara ita.penis heri mulai menemukan apa yang dicari perlahan mulai didorongnya penis itu makin dalam,ita merasa penis itu terlampau besar untuk vaginanya diapun kembali memejamkan matanya lebih erat,sementara penis heri makin masuk kedalam vaginanya. "ah...wah,bener-bener sempit nih memeknya ita,anget lagi".celoteh heri yang membuat teman-temannya iri. Akhirnya penis heri sudah masuk seluruhnya kedalam vagina ita.nampak darah segar mengalir dari vagina milik ita yang menandakan bahwa dia masih perawan. "aahhh.......sakiiitt....periiihh....!".rintih ita yang nyaris tak terdengar. Heri sejenak berhenti dan menikmati sensasi lubang sempit itu. "tenang sayang,sebentar lagi juga enak kok...memek kamu bener-bener sempit.!"heri berujar sambil tangannya tak henti bergerilya dipayudara milik ita. Sementara itu,sambil menunggu giliran,dino,agus dan tio beronani sambil menonton pertunjukan hot secara live. Setelah cukup lama terdiam akhirnya heri mulai menggerakan penisnya perlahan-lahan namun dengan tempo yang terus bertambah. "ahh...ah...ahh..uh...uh...sudah cukup hentikan panaas...periiih....cukuup...!".jerit ita histeris. Hal ini wajar karena selain ini yang pertama baginya,ukuran penis doni dan kondisi vagina yang masih sempit dan kering juga ikut berpengaruh menambah rasa sakit. Sementara itu,heri makin intens menggenjot vagina ita diselingi dengan mengecup bibir mungil ita dan meremas atau melumat payudara ita. Sudah hampir 20 menit heri menggenjot ita,vagina ita juga sudah mulai licin oleh cairan cinta dari vaginanya. Akhirnya heri mempercepat genjotannya.ita semakin erat meremas sprei dan bantal yang ada ditangannya.hingga akhirnya heri mencapai klimaks. "ah...telan pejuku,telan semua,masukin ke memek kamu".erang heri. Akhirnya heri berbaring lemah diatas tubuh mungil ita sebelum penisnya mengecil dan menyabutnya. Kini ita sudah lemah sekujur tubuhnya penuh keringat.tak ada lagi wangi parfum yang tersisa,jilbabnya juga basah oleh keringat dan airmatanya.sementara itu,lelehan darah bercampur sperma mengalir dari lubang vaginanya. Namun,penderitaannya belum usai,masih ada tiga pria yang menanti untuk dipuaskan. "giliran gue nih!"sorak doni dengan riang. Doni segera menghampiri tubuh ita yang sudah lemas.tak lupa doni mengambil cd milik ita,cd itu ia gunakan untuk membersihkan vagina ita yang penuh dengan bekas sperma heri dan darah perawan ita.setelah itu,doni tidur terlentang dan segera mengangkat tubuh ita untuk menindihnya.rupanya doni ingin memperkosa ita dalam posisi women on top.ita yang sudah lemas menurut saja ketika doni menariknya dan meletakannya diatas tubuh doni,setelah itu,doni mulai mengecup kening,pipi dan tentu saja bibir ita yang sangat menggoda itu. Tangan kanannya berada dipayudara sintal milik ita sementara tangan kirinya sibuk mencari klitoris ita disela vaginanya,dia ingin vagina ita basah dahulu sebelum dia memasukan penisnya.rupanya cara itu cukup ampuh,beberapa saat kemudian dia merasa jari tangannya mulai basah oleh cairan cinta itu. "akhirnya keluar juga,gimana enak ga?nih kamu jilat jariku bekas memek kamu!".perintah doni sambil memaksa ita untuk membuka mulut dan memasukan jarinya. Ita pun akhirnya menjilat jari tangan doni dengan rasa jijik. "saatnya mulai....nih,rasain kontol ku yang bakal ngebor dimemek kamu." seru doni. Akhirnya perlahan doni memasukan penisnya kedalam vagina ita,cairan yang keluar jelas sangat membantu.penis itu terasa mudah menerobos vagina ita.setelah masuk seluruhnya doni mulai menggenjot tubuh ita,hal itu membuat pantat ita yang bulat padat bergoyang penuh gairah dimata agus,tio serta heri.kemudian agus yang tak tahan menghampiri mereka dan langsung mencium pantat ita,tak hanya itu,agus mulai meludahi pantat ita dan jarinya setelah itu dia mulai memasukan jarinya kedalam lubang dubur ita yang sangat sempit.jelas hal ini membuat ita sangat kesakitan,apalagi tak hanya satu jari yang masuk namun dua sekaligus jari telunjuk dan jari tengah agus. "aduuuh....sakiiit....!!!".jerit ita yang merasakan ada benda asing dikedua lubang pribadinya. Doni dan agus terus mengerjai kedua lubang milik ita,doni merasa ita sudah dua kali orgasme,sekarang tubuh ita lemas dan hanya pasrah menerima perlakuan mereka.akhirnya doni merasa akan mencapai klimaks. "ah....ah...ah...aku nyampe,memek kamu gurih banget ta." lengkuh doni. Kemudian doni mendorong ita hingga akhirnya ita terlentang disebelahnya kemudian doni segera bangkit dan langsung memuntahkan sperma dipayudara dan wajah ita. "ayo mandi dulu pake peju aku biar tambah cantik."ejek doni. Kini kedua payudara ita serta wajah ita penuh dengan sperma doni.sekarang penis doni berada dipermukaan vagina ita untuk menyelesaikan klimaksnya.setelah itu,tangan doni mengambil ujung jilbab ita untuk mengelap batang penisnya dan mengelap wajah imut ita yang berlumpuran spermanya. Ita kini hanya mampu memejamkan mata sambil menangis meratapi nasibnya.setiap hela nafasnya membuat payudaranya bergerak sangat menawan dan menggoda mereka berempat.sebelum giliran tio tiba, mereka mengerubuti ita untuk nyusu dipayudara kenyal itu,bahkan agus yang gemas meremas payudara ita dengan cukup keras yang membuat ita merintih kesakitan.setelah puas,mereka memberi kesempatan kepada tio untuk mengambil alih permainan. "sekarang gilirang gue,tenang sayang,aku bakalan bermain halus kok". Tio memulai dengan mengecup lembut bibir mungil ita,tangannya sudah sedari tadi sibuk bergerilya dipayudara ita,sementara satunya mengeksekusi vagina ita.kadang dia membuka lebar lubang itu dan mencubit klitoris ita yang membuat ita kesakitan.kadang pula jari itu menutup rapat kedua sisi payudara ita yang seolah-olah menjadi terjepit itu. Mulut tio mulai turun menuju ketiak ita sebelum akhirnya menuju payudara ita dan menghisapnya penuh gairah.tak ada rasa jijik samasekali dari tio,walaupun tubuh ita penuh dengan keringat dan sperma teman-temannya.namun justru wangi keringat itu membuat tio semakin mabuk kepayang.ita semakin kepayahan,tubuhnya lemas bagai tanpa tulang,sementara tio kian gencar merangsang setiap titik sensitif ditubuh ita.hal ini membuat ita beberapa kali mencapai klimaks,vaginanya terasa panas karena terus dikocok oleh jari tio.setelah puas menggerayangi ita,kini tio sudah siap untuk memasukan penisnya kedalam vagina ita.kini tio mulai mencari lubang kenikmatan ita untuk segera menikmatinya. "ach....akhirnya...gurih banget,memek kamu sempit banget,kontolku jadi anget." tio mulai meraju tak jelas. Genjotan tio hanya ditanggapi dingin oleh ita,dia hanya bisa diam tanpa gerakan berarti. Makin lama makim cepat,kadang tak hanya gerakan maju mundur tapi juga memutar,kadang tio juga berhenti sejenak untuk mengatur nafas,nampak lelehan bening diselangkangan ita yang menandakan dia telah beberapa kali orgasme.namun tio masih saja menggenjotnya penuh semangat.hingga akhirnya tio melengkuh panjang dan tangannya meremas payudara ita dengan kuat tanda dia mau orgasme.. "ah..ah..ah..ah...ah.." tio melengkuh panjang menandakan spermanya telah berhasil membasahi vagina ita.kemudian dia mencabut penisnya dan mengeluarkan sisa sperma dipayudara dan mulut ita,dia memaksa ita untuk membersihkan sperma yang ada dipenisnya. "ayo sayang,isep kontolku..bersihin pejuku..."perintah tio. Tanpa pilihan,ita membuka mulutnya dan mulai mengulum penis tio. Setelah puas,tio istirat disamping ita sambil mengatur nafas.tangannya tak lepas dari payudara ita yang begitu menggoda.kini payudara itu berwarna merah karna tak henti-hentinya diremas.setelah merasa cukup,tio bangkit untuk memberikan kesempatan kepada agus. Agus langsung menindih ita bukan dengan cara halus,namun dia langsung membantingkan tubuhnya keatas tubuh ita mirip adegan smack-down.ita yang sudah lemas tentu saja terkejut mendapatkan perlakuan seperti itu.tubuhnya serasa sesak,karena sudah cukup lama menunggu,tanpa pemanasan agus langsung menghujamkan penisnya kedalam vagina ita dan langsung menggentotnya.tak butuh waktu lama untuk agus mencapai klimaks,tubuh ita yang menduduki penisnya terus digerakan naik turun,menyebabkan payudara ita berguncang hebat dan mengundang siapa saja yang melihat untuk meremasnya. Akhirnya klimaks agus datang juga,ita yang sudah lemaspun langsung ambruk ketubuh agus,punggung ita menempel didada agus,sementara tangan agus meremas payudara ita yang berada diatasnya.sedang yang satunya menggosok klitoris ita untuk menuntaskan klimaksnya.terasa becek vagina ita karena sperma agus cukup banyak yang keluar.setelah puas,agus bangkit dan meninggalkan ita yang kini berbaring telungkup dan lemas,sementara ke empat pria tersebut duduk disofa sambil menatap tubuh mungil nan indah milik ita.mereka tak menyangka dapat meniduri ita wanita berjilbab yang dikenal santun dan ramah.namun penderitaan ita belum selesai karena ke empat pria tersebut masih menginginkan vagina ita.sambil menunggu kondisi pulih,mereka tidur satu ranjang dengam ita.tangan merekapun terus bergerilya didaerah sensitif milik ita.sampai satu persatu dari mereka tertidur dengan tangan masih berada ditubuh ita.bahkan tangan heri masih berada divagina ita.jelas hal ini sangat mengganggu.namun karena dia sudah lelah,ita akhirnya terlelap juga. Sekitar pukul 02.00 dini hari,agus terbangun dari tidurnya dia merasakan ada benda kenyal dan empuk ditangannya.ternyata itu adalah payudara ita yang masih terlelap.agus memandang wajah ita yang terlelap dengan jilbab dikepalanya.betapa manis dan cantiknya wajah itu.kemudian dia mulai meremas payudara milik ita,tentu saja hal itu membuat ita terkejut dan bangun dari tidurnya.tak hanya itu,semua yang ada disitupun ikut terbangun bahkan heri yang dari semalam jarinya berada divagina ita langsung menyodoknya.jeritan dan tangisan itapun kembali pecah. "toloongg...jangaaan..saya udah cape..."rintih ita. Namun tanpa ampun mereka terus menggerayangi tubuhnya.bahkan mereka sudah bersiap untuk memperkosa ita.kali ini mereka akan main secara keroyokan.dini hari memang waktu yang sangat menggairahkan.mereka mengangkat tubuh ita,sementara tio sudah terlentang menunggu vagina ita. "ayo cepat masukin,kontol gue pengen ngebor memeknya lagi."perintah tio. Kemudian mereka memapah ita kemudian mengarahkan vagina ita ke penis tio.kemudian dari arah belakang heri mulai mengarahkan penisnya ke pantat ita,sementara doni memaksa membuka mulut ita dan memasukan penisnya kesana.agus mengarahkan tangan ita dan mengarahkan untuk mengocok penisnya.mereka terus menggarap tubuh ita dan mengejar klimaks masing masing.sepertinya mereka tak memperdulikan kondisi ita yang lemas.kondisi pagi hari yang sepi menambah sensasi erotis dikamar itu.selang berapa lama,heri mulai mencapai klimaks disusul tio,agus kemudian doni.mereka saling bertukar posisi hingga akhirnya mereka lemas dan mengakhiri permainannya.kini tubuh ita kembali berlumur sperma dan keringat.namun itu semua belum berakhir karena hari masih panjang dan esok adalah hari minggu.jadi mereka masih punya banyak kesempatan untuk meniduri ita. Pagi akhirnya datang,mereka terbangun sekitar pukul 08.00.rasa pegal dan lemas tentu melanda mereka semua,terlebih ita yang menjadi pelampiasan keempat pria tersebut. Mereka menggendong ita dan membawanya kekamar mandi doni,karna ukurannya yang mewah dan cukup luas,memungkinkan mereka masuk semua kesana.tio mulai memutar kran shawer,sekita air dingin mengalir mengenai tubuh ita membuat dia tersentak,mereka mengkerubuti ita dan berebut untuk menyabuninya.jilbab yang dari kemarin melekatpun mulai dicopot,kini nampak jelas rambut pendek sebahu ita yang telah basah,kemudian heri mengambil shampo dan mulai mengkeramasi rambut ita.namun tak hanya rambut yang dikepala,rambut vagina ita juga ikut dikeramasi bahkan disela aktivitasnya,heri masih sempat meremas payudara ita dan memagut bibir ita,posisinya yang berada dibelakang tubuh ita membuat penisnya menempel dipantat ita yang sekal.tak dapat dihindari lagi.penis heripun mulai mencari lubang anus milik ita untuk disodomi.dalam posisi berdiri ita kembali mengalami pelecehan seksual,bahkan kini agus mulai maju dan mengangkat kaki kanan ita untuk kemudian memasukan penisnya kelubang vagina ita.kini ita diapit oleh dua orang pria dibawah siraman air yang dingin.setelah heri dan agus selesai,kini giliran tio dan dino.tubuh ita lemas setelah beberapa kali klimaks,andai tio tak menopang tubuhnya mungkin dia sudah ambruk tak berdaya.tio mendapat anus ita sementara dino mendapat vagina.setelah masing masing mencapai klimaks,mereka mendudukan ita dipinggir bath-up.agus mengambil cukuran jenggot milik dino hendak mencukur bulu vagina ita. "ayo manis,dicukur dulu jembutnya biar tambah imut..hehehe..!"kata agus. Heri dan tio pun membuka kaki ita lebar-lebar.sementara dino mengoleskan krim disekitar vagina ita.kini agus sudah siap untuk mencukur bulu vagina ita.ita yang nampak tak setuju mencoba menutup kakinya,namun peganan heri dan tio dikakinya begitu kuat hingga membuat usahanya sia-sia. Selang satu menit,agus sudah selesai mencukur bulu kemaluan ita.kemudian mereka memapah ita dan menepatkannya didepan cermin yang besar hingga membuat pantulan tubuhnya terlihat jelas. "gimana cantik,bagus ga hasil karyaku?"tanya agus sambil mencubit vagina ita yang kini plontos. Lagi-lagi ita hanya menangis dan meratapi nasibnya.sekitar pukul 09.00 akhirnya mereka selesai mandi,namun tak ada satupun yang berpakaian.semuanya masih bugil termasuk ita yang kini juga sudah tidak mengenakan jilbab lagi,bahkan tubuh bugil itu dibiarkan basah oleg mereka.karna menurut mereka,tubuh ita menjadi semakin sexy. Dengan tubuh basah dan bugil,mereka membawa ita kedapur mereka ingin ita memasak sesuatu untuk mereka.akhirnya ita memasak nasi goreng untuk mereka,disela-sela aktivitasnya memasak,mereka juga bergantian jongkok dibawah ita untuk menjilati vaginanya dan memainkan klitorisnya dengan jari mereka.tak jarang,ketika mencapai klimaks ita merasa lemas dan hampir terjatuh.heri dan teman-temannya juga bergantian mengemut payudara ita. Setelah makanan siap,mereka memapah ita dan membaringkannya dimeja makan.disekelilin ita ditaruh berbagai lauk pauk,bahkan heri menaruh ice cream divagina,payudara dan perut ita.setelah itu,dia juga menuangkan susu kental manis disekujur tubuh ita dari kepala sampai kaki.tentu saja ini terasa amat menyiksa bagi ita,karna dia harus menahan dinginnya ice cream didaerah sensitifnya.namun tak demikian dengan ke empat pria yang ada bersama ita,disela-sela mereka menikmati makanan,mereka juga menikmati ice cream serta susu kental manis yang berada ditubuh ita. "wah,ini ice cream terenak yang pernah gue rasain.ice cream rasa memek!" komentar tio. "apalagi ini,susu rasa susu hahahaha!" sambung agus yang sedang menjilati susu kental manis yang berada dipayudara ita. Selesai makan,mereka mempersilahkan ita untuk makan,namun kali ini menunya khusus.mereka mencampur nasi yang akan dimakan oleh ita dengan sperma mereka berempat. "ayo,sarapan nasi campur peju pasti sehat!" celoteh doni. Ita juga tak boleh turun dari meja,dia harus makan dalam posisi merangkak seperti anjing.tentu saja ita merasa terhina dan sedih mendapatkan perlakuan tersebut. "tolong hentikan,kapan kalian akan melepaskanku?"tanya ita lirih. Namun tak ada satupun yang menjawab.doni dan heri yang duduk disebelah kanam ita langsung meremas payudara ita yang menggantung dengan indah sementara agus dan tio dipayudara satunya lagi. Setelah itu,tio bangkit dan mengambil sesuatu dilemari es.ternyata dia mengambil dua batang mentimun,langsung tia mengangkat satu kaki ita dari samping dan memasukan batang mentimun itu kevagina ita.tentu saja hal itu membuat ita kaget dan memekik. "aaaaawww.....aaahhhh.....apa yang kalian lakukan?"pekik ita. Kembali vagina ita merasa amat dingin,dia juga merasakan sakit karena vaginanya yang masih kering dan tekstur timun yang tidak halus.heri mulai tertarik akan hal tersebut lalu mengambil sebuah wortel dan langsung memasukannya keliang anus milik ita.sementara ita yang belum menyelesaikan makannya dipaksa mengulum batang penis milik agus.sementara doni menikmati kedua payudara ita yang menggantung bebas.setelah beberapa menit,cairan vagina ita mulai mengalir,kemudian tio mencabut timun yang berada didalam vagina ita dan memaksa ita untuk memakanya. "ayo manis,rasakan mentimun rasa memek dan peju!" perintah tio dengan sedikit memaksa. Tak hanya itu,heri juga memaksa ita untuk memakan wortel yang tadi dimasukan kelubang anus ita.setelah selesai,mereka kembali berpindah tempat,kali ini mereka menuju keruang tengah.agus yang menggendong ita didepan tak mau kehilangan kesempatan dia memasukan penisnya kevagina ita dalam posisi berdiri dan berjalan.payudara ita bergesekan dengan dada agus yang berbulu,sesampainya diruang tamu,agus yang belum klimaks langsung memepet tubuh ita ditembok kemudian dia semakin cepat menggenjotnya.akhirnya agus klimaks juga dia langsung lemah dan menjatuhkan ita dari gendongannya,itapun langsung duduk tak sanggup berdiri karena kaki yang sudah lemas. Tio menyeret tubuh ita dan disuruh melakukan oral sex kepada mereka semua yang kini sudah duduk disofa panjang.tanpa pilihan ita melakukan hal tersebut sambil terkadang juga disuruh mengocok batang penis mereka.tak hanya dimulut,mereka juga mengeluarkan sperma diluar yang mengenai rambut.wajah,leher serta payudaranya.setelah selesai tio mengangkat tubuh ita dan mendudukannya diatas penisnya.dia menggenjot dengan penuh semangat,payudara ita yang berguncang membuat tio gemas kemudian meremasnya dan terkadang menggigit puting ita. "aw...sakiiiitt....!" rintih ita yang merasa tio meremas payudaranya begitu keras. Setelah klimaks,ita harus melayani heri dan doni semetara agus sudah mendapat jatah pertama.setelah selesai semua,itapun lemas tubuh bugil dan mungilnya kini tergolek lemah dikarpet,tubuhnya penuh dengan sperma dan bekas merah,terutama dibagian payudaranya. Merekapun terus menggilir ita sampai malam,kadang diruang tamu.didapur,tangga dan berbagai tempat dirumah itu. Mereka juga sempat mendandani ita menggunakan seragam smu,karna tubuh dan wajahnya yang imut dia masih terlihat pantas mengenakan seragam smu.sementara mereka berempat berperan sebagai gurunya.ita kembali digenjot bergilir dengan kemeja putih dan rok abu-abu masih melekat pada dirinya.setelah cukup puas memperkosa dan menyiksa ita,akhirnya mereka mengantarkan ita kembali ke kost-annya.sejak saat itu,mereka bebas menikmati tubuh ita dimanapun kapanpun.bahkan mereka sempat mengeroyok ita di toilet kampus.itapun harus siap melayani mereka baik semua ataupun perorangan. Itulah sekelumit kisah wanita cantik nan imut yang mengalami nasib tragis.

Aug
25
2011

Cerita Panas Lhian Siswa Smu yang Cantik

Posted by admin 0 Responses

Cerita panas kali ini merupakan sedikit pengalaman pribadiku yang aku tuangkan didalam cerita sex yang saya alami saat aku masih duduk disalah satu sekolahku dahulu. Memang mungkin ini adalah sebuah pengalaman yang tidak akan pernah aku lupakan dan tak pernah aku hilangkan dari otakku ini. Pagi sekali sekitar pukul 06. 30 dia sudah menunggu angkutan kota menuju sekolahan nya, jarak sekolahnya tidak terlalu jauh sekitar 5 km. Apalagi nanti ada upacara. Tiba-tiba ketika Lhian sedang asyik-asyiknya jalan sendiri sambil baca buku pelajaran, ada seorang naik mobil menghampirinya. "Halo Lhian kok jalan?", tanya si pengendara mobil itu yang ternyata adalah Pak Bambang guru Fisikanya. "Lho Bapak kok jam segini sudah berangkat?" tanya Lhian spontan. "Iya saya habis nginap di tempat saudara, takutnya telat. Kalo mo ke sekolah, ayo ikut Bapak saja" ajak Pak Bambang.

Karena Lhian sudah kenal benar dengan yang namanya Pak Bambang. Akhirnya mau juga nebeng Pak Bambang. Tapi Lhian nggak tahu disitulah awal bencana bagi Lhian. "Dik Lhian nggak keberatan khan kalau kita mampir dulu ke rumah adik saya, soalnya saya baru ingat kalau buku laporan saya tertinggal di sana?" Pak Bambang membuat alasan. "Iya Pak tapi cepetan yah, biar nggak telat" Tiba-tiba Pak Bambang mempercepat kecepatan mobilnya dengan sangat tinggi dan arahnya ke rumah kosong di pedesaan yang jarang terjamah orang.

Sesampainya disitu Lhian ditarik dengan paksa masuk ke dalam rumah kosong dan disitu sudah ada Pak Wahyu, Pak Joko yang merupakan wali kelas Lhian yang sudah lama mengamati Lhian dan nggak ketinggalan kepala sekolah Pak Budi dan wakil kepala sekolahnya yang namanya Pak Dono. Mereka semua nampaknya sudah menunggu semenjak tadi. "Halo Lhian, sudah ditunggu dari tadi lho?", seru salah seorang dari mereka. "Apa-apaan nih? Apa yang Bapak-Bapak lakukan disini?", Lhian mulai kebingungan.

Lhian menjerit karena dia mulai digerayangi. "Bangsat tua bangka jangan coba-coba sentuh saya". "Diam, kamu pengin lulus nggak? Berani melawan perintah gurumu yah", kata Pak Budi selaku guru Matematika. Lhian mencoba melawan dengan memukuli dan menendang gurunya. Tapi Lhian kalah setelah ia dihantam perutnya oleh Pak Joko guru olahraganya, dan di gampar pipinya berkali-kali sampai Lhian kelenger hingga merah dan bibirnya berdarah. Lhian meringis kesakitan. "Nah sekarang emut dan hisep kontol saya, kontol Pak Andi, kontol Pak Joko dan Pak Dono yang kenceng nyedotnya, kalo nggak saya obrak-abrik rahim kamu biar nggak bisa punya anak Mau?",

Karena ketakutan akhirnya Lhian mengulum kontol para gurunya. Lhian menyedot penis mereka satu-persatu dengan bibirnya yang merah dan mulutnya yang mungil, sambil tangannya menggenggam penis para Bapak guru sambil mengocok-ngocoknya. "Nah gitu terus yang enak ayo jangan berhenti, telen pejuhnya biar kamu tambah pinter", seru Pak Bambang. "Mmmphh, slerrpp, mmhh" Dengan terpaksa Lhian menghisap kontol-kontol mereka sampe mereka semua pada orgasme. "Edan, nih cewek nyepongnya mantep banget Lhian, lo pasti sudah sering nyepongin kontol temen-temen lo yah? haa, ha, ha, ha". Guru Lhian satu persatu menyemburkan sperma mereka ke dalam mulut Lhian, dan mengalir ke tenggorokannya. Walaupun Lhian hampir muntah dia memaksakan untuk menelan pejuh kelima orang itu. Dia masih tak percaya dioral oleh gurunya sendiri. Wajah Lhian mulai terlihat kelenger lagi, sepertinya ia mabuk sperma, merasakan mual pada perutnya.

Setelah mereka puas memperkosa mulut Lhian ternyata mereka langsung menelanjangi Lhian. Pak Dono memegang kedua tangan Lhian, Pak Budi memelorotkan rok abu-abunya, Pak Joko merobek pakaian dan kutang Lhian. "Nih murid teteknya putih banget, gede lagi, putingnya coklat pasti manis nih Wahh, kenyal sekali, lembut banget Bapak-Bapak" Pak Joko mengomentari payudara Lhian, sambil mulai meremas-remas payudara Lhian. Dalam sekejap Lhian sudah dalam keadaan tanpa busana. "Jangan Pak jangan, atau saya akan melapor ke polisi", seru Lhian sambil teriak. "Ooo, coba saja nanti, sekarang sebaiknya kamu persiapkan diri kamu untuk menerima pelajaran khusus" Seru Pak Budi sambil menjambak rambut Lhian. Lhian sekarang hanya mengenakan celana dalam putih saja.

Ketika Pak Budi hendak beraksi tiba-tiba Pak Bambang protes, "karena saya yang dapat perek ini maka saya duluan yang memperkosanya." Tanpa membuang waktu lagi kini diputarnya tubuh Lhian menjadi tengkurap, kedua tangannya yang ditarik kebelakang menempel dipunggung sementara dada dan wajahnya menyentuh kasur. Kedua tangan kasar Pak Bambang itu kini mengusap-usap bagian pantat Lhian, dirasakan olehnya pantat Lhian yang sekal. Sesekali tangannya menyabet pantat Lhian dengan keras, bagai seorang Ibu yang tengah menyabet pantat anaknya yang nakal "Plak, Plak.". "Wah sekal sekali pantat kamu Lhian, kenyal, gila nih Don, paha murid kita satu ini gede amat. Putihnya ya ampun, banyak bulu-bulu halusnya lagi di pahanya" ujar Pak Bambang sambil terus mengusap-usap dan memijit-mijit pantat Lhian sambil sesekali mencabuti bulu-bulu di paha Lhian yang putih gempal itu. Lhian mengaduh kesakitan. "Bakal mabuk nih kita nikmatin pantat segede gini, seperti bokong sapi aja." "Montoknya, ya ampun, gede, kenyal lagi" sambil memijat pantat Lhian yang memerah karena tamparan tangan Pak Bambang. Pak Dono lalu menjilati dan menggigiti bongkahan pantat si Lhian. "Aakhh, bangsat, keparat, jangan sentuh pantat gue", Lhian membentak mereka. "Plakk" sebuah tamparan sangat keras ke pipi Lhian. "Diam kamu, pelacur pengin gue rontokin gigi putih loe", Pak Dono balas membentak.

Lhian hanya diam pasrah, sementara tangisannya mulai terdengar. Tangisnya terdengar semakin keras ketika tangan kanan Pak Bambang secara perlahan-lahan mengusap kaki Lhian mulai dari betis naik terus kebagian paha lalu mengelus-elus paha mulus putih Lhian dan akhirnya menyusup masuk kedalam roknya hingga menyentuh kebagian selangkangannya. "Jangan paak, saya mohon, saya masih perawan pakk", Lhian teriak ketakutan. Sesampainya dibagian itu, salah satu jari tangan kanan Pak Bambang, yaitu jari tengahnya menyusup masuk kecelana dalamnya dan langsung menyentuh kemaluannya. Kontan saja hal ini membuat badan Lhian agak menggeliat, dia mulai sedikit meronta-ronta, namun jari tengah Pak Bambang tadi langsung menusuk lobang kemaluan Lhian.

"Egghhmm, oohh, shitt, shitt", Lhian menjerit badannya mengejang tatkala jari telunjuk Pak Bambang masuk kedalam liang kewanitaannya itu. Badan Lhian pun langsung menggeliat-geliat seperti cacing kepanasan, ketika Pak Bambang memainkan jarinya itu didalam lobang kemaluan Lhian. Nafas Lhian terengah-engah sambil mengerang kesakitan.

Dengan tersenyum terus dikorek-koreknyalah lobang kemaluan Lhian, sementara itu badan Lhian menggeliat-geliat jadinya, matanya merem-melek, mulutnya mengeluarkan rintihan-rintihan yang keluar dari mulutnya itu Pak Bambang menciumi bibir vagina Lhian sambil sesekali memasukkan lidahnya kedalam liang vagina Lhian, kepala Pak Bambang menghilang di bawah selangkangan Lhian sambil kedua tangannya dari bawah meremas -remas pantat Lhian. Sementara Pak Dono meremas payudara kanan Lhian, dan mulutnya mengulum payudara Lhian satunya lagi. "Pak Bambang, susu murid kesayanganmu ini gurih sekali, harum lagi, kualitas nomer satu". Pak Dono asyik menyantap payudara Lhian, yang ranum padat dan kenyal sekali.

"Ehhmmpphh, mmpphh, ouughh, sakii..iit, paa..ak". Lhian terus mengerang kesakitan pada kedua buah dadanya dan kenikmatan pada kemaluannya. Setelah beberapa menit lamanya, kemaluan Lhianpun menjadi basah oleh cairan kewanitaannya, Pak Bambang kemudian mencabut jarinya.

Melihat Lhian yang meronta-ronta, Pak Bambang semakin bernafsu dan dia segera menghunjamkan penisnya ke dalam vagina Lhian yang masih perawan. Walaupun vagina Lhian sudah basah oleh air liur Pak Bambang dan cairan vagina Lhian yang keluar, namun Pak Bambang masih merasakan kesulitan saat memasukkan penisnya, karena vagina Lhian yang perawan masih sangat sempit. Lhian hanya dapat menangis dan berteriak kesakitan karena keperawanannya yang telah dia jaga selama ini akan direnggut dengan paksa seperti itu oleh gurunya sendiri. Lalu dengan ngacengnya Pak Bambang memasukkan batang penisnya lagi. "Auw aduh duh sshh, saakkii..iitt, pakk.. ammpuu..uunn", terdengar suara dari mulut Lhian yang terlihat kesakitan. Dia mulai menangis sambil mendesah menikmati kontol Pak Bambang yang mengaduk-aduk liang peranakannya. Terlihat jelas raut wajah Lhian yang menahan sakit luar biasa pada selangkangannya.

Lhian sekarang lebih terdengar suara tertahan ketika penis disodok-sodokkan ke lubang memeknya. "Huek, hek, hek aah oohh jangan, uh, duh, ampunn pakk", ternyata Lhian telah orgasme. Sungguh mengasyikan melihat expresi Lhian yang merem-merem sambil menggigit bibir bawahnya. Pak Bambang terus menggenjot memek Lhian. Menit-menitpun berlalu dengan cepat, masih dengan sekuat tenaga Pak Bambang terus menggenjot tubuh Lhian, Lhianpun nampak semakin kepayahan karena sekian lamanya Pak Bambang menggenjot tubuhnya. Rasa pedih dan sakitnya seolah telah hilang, erangan dan rintihanpun kini melemah, matanya mulai setengah tertutup dan hanya bagian putihnya saja yang terlihat, sementara itu bibirnya menganga mengeluarkan alunan-alunan rintihan lemah, "Ahh, ahh, oouuhh".

Lalu Pak Bambang memposisikan tubuh Lhian menungging. Pantat Lhian sekarang terlihat kokoh menantang, ditopang paha panjangnya yang putih dan tegak. Pak Bambang memasukkan kejantanannya yang berukuran 20 cm lebih itu ke vagina Lhian hingga terbenam seluruhnya, lalu dia menariknya lagi dan dengan tiba-tiba sepenuh tenaga dihujamkannya benda panjang itu ke dalam rongga vagina Lhian hingga membuatnya tersentak kaget dan kesakitan sampai matanya membelalak disertai teriakan panjang. "Aaahh, Stoop, kumohon jangan". Kedua tangan Pak Bambang memegang pantat Lhian, sedangkan pinggulnya bergoyang-goyang berirama. Sesekali tangan Pak Bambang mengelus-elus pantat Lhian dan sesekali meremas payudara Lhian dari belakang.

Beberapa menit kemudian, Pak Bambang kembali mempercepat goyangan pinggulnya, kemudian dia menarik kedua tangan Lhian. Jadi sekarang persis seperti menunggangi kuda lumping, kedua tangan Lhian dipegang dari belakang sedangkan pantatnya digoyang seirama sodokan penis Pak Bambang. Karena tidak disangga kedua tangannya lagi, kini buah dada Lhian tergencet di atas tikar tipis sebagai alas Lhian disetubuhi. Sedangkan wajah Lhian menghadap keatas dengan mulut menganga mengerang kesakitan. Melihat keadaan Lhian seperti itu, Pak Bambang semakin bersemangat mengebor liang vagina Lhian.

"Anjingg, bangsaatt, perekk, loo, Lhian ngentoott, gue entotin loo". Pak Bambang merancau tak jelas. Dan akhirnya Pak Bambangpun berejakulasi di lobang kemaluan Lhian, kemaluannya menyemburkan cairan kental yang luar biasa banyaknya memenuhi rahim Lhian. "Aa, aakkhh, oohh", sambil mengejan Pak Bambang melolong panjang bak serigala, tubuhnya mengeras dengan kepala menengadah keatas. "Aoohh, oouuhh, bangsaatt, shitt, shitt". Lhian mengumpat sambil mendesah, tubuhnya mengejang merasakan air mani Pak Bambang membanjiri rahimnya. Puas sudah dia menyetubuhi Lhian, rasa puasnya berlipat-lipat baik itu puas karena telah mencapai klimaks dalam seksnya, puas dalam menyetubuhi Lhian, puas dalam merobek keperawanan Lhian dan puas dalam memberi pelajaran kepada gadis nomor satu di sekolah itu.

Lhian menyambutnya dengan mata yang secara tiba-tiba terbelalak, dia sadar bahwa gurunya telah berejakulasi karena dirasakannya ada cairan-cairan hangat yang menyembur membanjiri vaginanya. Cairan kental hangat yang bercampur darah itu memenuhi lobang kemaluan Lhian sampai sampai meluber keluar membasahi paha dan sprei kasur. Lhian yang menyadari itu semua, mulai menangis namun kini tubuhnya sudah lemah sekali. Setelah itu Pak Andi maju untuk mengambil giliran. Kali ini Pak Andi mengangkat kedua kaki Lhian ke atas pundaknya, dan kemudian dengan tidak sabar dia segera menancapkan penisnya yang sudah tegang ke dalam vagina Lhian. Pak Andi masih mengalami kesulitan saat memasukkan penisnya, meskipun vagina Lhian kini sudah licin oleh sperma Pak Bambang dan juga cairan vagina Lhian. Vagina Lhian masih sangat sempit. Kembali vagina Lhian diperkosa secara brutal oleh Pak Andi, dan Lhian lagi-lagi hanya dapat berteriak kesakitan.

"Bangsatt, akkhh, bajingaann, sudahh, sudahh, keparaatt" Namun kali ini Lhian tidak berontak lagi, karena dia pikir itu hanya akan membuat gurunya semakin bernafsu saja.

Sementara itu Pak Andi terus memompa vagina Lhian dengan cepat sambil satu tangannya meremas-remas payudara Lhian yang bulat kenyal dan tidak lama kemudian dia mencapai puncaknya dan mengeluarkan seluruh spermanya di dalam vagina Lhian. "Ooohh, makan nih pejuh gue". Lhian hanya dapat meringis kesakitan, tubuhnya telentang tidak berdaya di lantai. Walaupun tangan dan kakinya sudah tidak dipegangi lagi, dan membayangkan dirinya akan hamil karena saat ini adalah masa suburnya. Dia dapat merasakan ada cairan hangat yang masuk ke dalam vaginanya. Darah perawan Lhian dan sebagian sperma Pak Andi mengalir lagi keluar dari vaginanya.

"Hmmpphh, hhmmpp, oohhkk, oughh", Lhian menjerit dengan tubuhnya yang mengejang ketika Pak Budi mulai menanamkan batang kemaluannya didalam lobang kemaluan Lhian. Matanya terbelalak menahan rasa sakit dikemaluannya, tubuhnya menggeliat-geliat sementara Pak Budi terus berusaha menancapkan seluruh batang kemaluannya. Memang agak sulit selain meskipun sudah dimasuki dua penis tadi, usia Lhian juga masih tergolong muda sehingga kemaluannya masih sangat sempit.

Akhirnya dengan sekuat tenaganya, Pak Budi berhasil menanamkan seluruh batang kemaluannya didalam vagina Lhian. Tubuh Lhian berguncang-guncang disaat itu karena dia menangis merasakan sakit dan pedih tak terkirakan dikemaluannya itu. Diapun terus memohon kepada Pak Budi agar mau melepaskannya. "Ahh, rasain loe, akhirnya aku bisa ngerasain jepitan memek kamu sayang", bisiknya ketelinga Lhian. "Oouuhh, Paakk, saakiitt, Paak, ampuunn", rintih Lhian dengan suara yang megap-megap. Jelas Pak Budi tidak perduli. Dia malahan langsung menggenjot tubuhnya memompakan batang kemaluannya keluar masuk lobang kemaluan Lhian.

"Aakkhh, oohh, oouuhh, oohhggh", Lhian merintih-rintih, disaat tubuhnya digenjot Oleh Pak Budi, badannyapun semakin menggeliat-geliat. Otot-otot dinding vaginanya kuat mengurut-urut batang kemaluan Pak Budi yang tertanam didalamnya, karenanya Pak Budi merasa semakin nikmat. Sambil memukuli perut Lhian dengan tangannya, berharap agar vagina Lhian mencengkram penisnya dengan lebih erat karena lobang vagina Lhian semakin mengendur.

Tiba-tiba Pak Budi mencabut penisnya dan dia duduk di atas dada Lhian. Pak Budi mendempetkan kedua buah payudara Lhian yang kecil dengan kedua tangannya dan menggosok-gosokkan penisnya di antara celah kedua payudara Lhian, sampai akhirnya dia memuncratkan spermanya ke arah wajah Lhian. Lhian gelagapan karena sperma Pak Budi mengenai bibir dan juga matanya. Setelah itu Pak Budi masih sempat membersihkan sisa sperma yang menempel di penisnya dengan mengoleskan penisnya ke payudara Lhian dan ke puting susunya. Kemudian Pak Budi menampar payudara Lhian yang kiri dan kanan berkali-kali, sehingga payudara Lhian berwarna kemerahan dan membuat Lhian merasa perih dan kesakitan.

Selanjutnya dua orang, Pak Joko dan Pak Dono maju. Mereka kini menyuruh Lhian untuk mengambil posisi seperti merangkak. Kemudian Pak Joko berlutut di belakang pantat Lhian dan mulai mencoba memasukkan penisnya ke lubang anus Lhian yang sangat sempit. "Gila nih cewek, bokongnya montok banget kenyal lagi, lihat nih Tin paha si Lhian. Gempal, gede, Putih banget. Bener kata Pak Bambang" Kata Pak Joko. "Ampuunn, jangan sodomi saya paakk, saya mohoonn". Membayangkan kesakitan yang akan dialaminya, Lhian mencoba untuk berdiri, tetapi kepalanya dipegang oleh Pak Dono yang segera mendorong wajah Lhian ke arah penisnya. Kini Lhian dipaksa mengulum dan menjilat penis Pak Dono. Penis Pak Dono yang tidak terlalu besar tertelan semuanya di dalam mulut Lhian.

Sementara itu, Pak Joko masih berusaha membesarkan lubang anus Lhian dengan cara menusuk-nusukkan jarinya ke dalam lubang anus Lhian. "Akkhh, oohh, aahh, sshh, perihh, pakk" Sesekali Pak Joko menampar pantat Lhian dengan keras, sehingga Lhian merasakan pantatnya panas. "Gila nih perek, bokongnya gede tapi lobangnya kecil banget" Kemudian Pak Joko juga berusaha melicinkan lubang anus Lhian dengan cara menjilatinya. Lhian merasakan sensasi aneh yang tidak pernah dia rasakan sebelumnya saat lidah Pak Joko menjilati lubang anusnya. Ia berada dibelakang Lhian dengan posisi menghadap punggung Lhian.

Ketika lobang dubur Lhian agak terbuka, Pak Joko menuang sebotol minyak goreng kedalam lobang dubur Lhian. Setelah itu kembali direntangkannya kedua kaki Lhian selebar bahu, dan, "Aaakkhh.", Lhian melolong panjang, badannya mengejang dan terangkat dari tempat tidur disaat Pak Jokol menanamkan batang kemaluannya didalam lobang anus Lhian. Rasa sakit tiada tara kembali dirasakan didaerah selangkangannya, dengan agak susah payah kembali Pak Joko berhasil menanamkan batang kemaluannya didalam lobang anus Lhian, meskipun baru masuk setengahnya. Setelah itu tubuh Lhian kembali disodok-sodok, kedua tangan Pak Joko meraih payudara Lhian serta meremas-remasnya.

Tidak lama kemudian Lhian kembali menjerit kesakitan. Rupanya anusnya sudah jebol oleh penis Pak Joko yang berhasil masuk seluruhnya dengan paksa. Kini Pak Joko memperkosa anus Lhian perlahan-lahan, karena lubang anus Lhian masih sangat sempit dan kering. Ketika Pak Joko menarik penisnya, mulut dubur Lhian ikut tertarik sehingga terlihat monyong keluar. Lalu Pak Joko menyodokkan lagi penisnya, sehingga kini dubur pantat Lhian mengempot. "Aaakkhh, ouughh, sakii..iitt, pak, periihh, akuu, nggakk.. kuatt, pakk, periihh, sakiitt". Lhian menjerit keras sekali, ia baru saja merasakan rasa sakit yang teramat-sangat yang pernah dirasakannya. Pak Joko merasakan kesakitan sekaligus kenikmatan yang luar biasa saat penisnya dijepit oleh anus Lhian. Pak Joko merasa penisnya lecet didalam pantat Lhian. Kenikmatan yang terus-menerus dirasakannya ketika menunggangi pantat Lhian. Tak terbayang bagaimana wajah orang tua Lhian, jika menyaksikan persetubuhan yang tidak manusiawi yang dialami putrinya. Anak perempuan yang mereka rawat dengan kasih sayang hingga remaja dan dibiayai, sekarang tubuhnya sedang menungging telanjang bulat, pantatnya disodomi oleh gurunya sendiri.

Seperempat jam lamanya Pak Joko menyodomi Lhian, waktu yang lama bagi Lhian yang semakin tersiksa itu. "Eegghh, aakkhh, oohh". Dengan mata merem-melek serta tubuh tersodok-sodok, Lhian merintih-rintih, sementara itu kedua payudaranya diremas-remas oleh kedua tangan Pak Joko. Saat Lhian berteriak, kembali Pak Dono mendorong penisnya ke dalam mulut Lhian, sehingga kini Lhian hanya dapat mengeluarkan suara erangan yang tertahan, karena mulutnya penuh oleh penis Pak Dono. Tubuh Lhian terdorong ke depan dan ke belakang mengikuti gerakan penis di anus dan mulutnya.

Kedua payudara Lhian yang menggantung dengan indah bergoyang-goyang karena gerakan tubuhnya diremas-remas dengan brutal oleh Pak Joko. Lhian berteriak-teriak kesakitan. "Aakkhh, oohh, oouhh, aammp, uunn, pakk" Keadaan ini terus berlangsung sampai akhirnya Pak Joko dan Pak Dono mencapai klimaks hampir secara bersamaan. Pak Joko yang sudah tidak tahan karena seret dan panasnya dubur Lhian menyemburkan spermanya di dalam anus Lhian, Lhian merasakan perih pada rongga duburnya yang lecet tersiram sperma Pak Joko. Dan Pak Dono menyemburkan spermanya di dalam mulut Lhian. Lhian terpaksa menelan semua sperma Pak Dono agar dia dapat tetap bernafas. Lhian hampir muntah merasakan sperma itu masuk ke dalam kerongkongannya, namun tidak dapat karena penis Pak Dono masih berada di dalam mulutnya. Lhian membiarkan saja penis Pak Dono berada di dalam mulutnya untuk beberapa saat sampai Pak Dono menarik keluar penisnya dari mulut Lhian. Sebagian sisi sperma Pak Dono yang tidak tertelan meluber keluar bercampur dengan air liur Lhian.

Kemudian Pak Dono memaksa Lhian untuk membersihkan penisnya dari sperma dengan cara menjilatinya. Pak Joko juga masih membiarkan penisnya di dalam anus Lhian dan sesekali masih menggerak-gerakkan penisnya di dalam anus Lhian, mencoba untuk merasakan kenikmatan yang lebih banyak. Lhian dapat merasakan kehangatan sperma di dalam lubang anusnya yang secara perlahan mengalir keluar dari lubang anusnya. Perih yang luar biasa dirasakan lobang pantat Lhian yang lecet-lecet.

Setelah Pak Joko mencabut penisnya dari anus Lhian, lalu Pak Dion mengambil kursi dan duduk di atasnya. Dia menarik Lhian mendekati dan mengangkat tubuh Lhian lalu memposisikan mengangkangi penisnya menghadap dirinya. Pak Dion kemudian mengarahkan penisnya ke vagina Lhian, dan kemudian memaksa Lhian untuk duduk di atas pangkuannya, sehingga seluruh penis Pak Dion langsung masuk ke dalam vagina Lhian. "Aohh, oouuhh, sakii..itt, udahh, Paak, ngiluu paakk", Lhian mengerang kesakitan. Setelah itu, Lhian dipaksa bergerak naik turun, sementara Pak Dion meremas dan menjilati kedua payudara dan puting susu Lhian. Sesekali Pak Dion menyuruh Lhian untuk menghentikan gerakannya untuk menahan orgasmenya. Pak Dion dapat merasakan vagina Lhian berdenyut-denyut seperti memijat penisnya, dan dia juga dapat merasakan kehangatan vagina Lhian yang sudah basah.

Pak Dion masih belum puas. Dia memiringkan tubuh Lhian lalu mengangkat kaki kanan Lhian ke bahunya dan mulai menyodok-nyodokan penisnya di liang kemaluan Lhian. Lhian menahan sakit bercampur nikmat itu dengan menggigit bibirnya sendiri hingga berdarah, wajahnya yang sudah penuh air mata dan memar bekas tamparan itu tidak membuat iba gurunya itu. Pak Dion tanpa kenal ampun berkali-kali menghujamkan senjatanya dengan sepenuh tenaga. Temannya yang gendut itu juga menjilati payudara Lhian yang bergoyang-goyang akibat irama pinggul Pak Dion, lidahnya bermain-main di ujung putingnya yang sudah sangat keras. Pak Dion tidak dapat bertahan lama, karena dia sudah sangat terangsang sebelumnya ketika melihat Lhian diperkosa oleh para rekannya, sehingga dia langsung memuncratkan spermanya ke dalam vagina Lhian. Lhian kembali merasakan kehangatan yang mengalir di dalam vaginanya.

Selanjutnya, Pak Gatot yang mengambil giliran untuk memperkosa Lhian. Dia menarik Lhian dari pangkuan Pak Dion, kemudian dia sendiri tidur telentang di lantai. Lhian disuruh untuk berlutut dengan kaki mengangkang di atas penis Pak Gatot. Kemudian secara kasar Pak Gatot menarik pantat Lhian turun, sehingga vagina Lhian langsung terhunjam oleh penis Pak Gatot yang sudah berdiri keras. "Akkhh, aakkhh, oogghh,". teriakan memilukan keluar dari mulut Lhian. Penis Pak Gatot, yang jauh lebih besar daripada penis-penis sebelumnya meskipun tubuhnya pendek yang memasuki vagina Lhian, masuk semuanya ke dalam vagina Lhian, membuat Lhian kembali merasakan kesakitan karena ada benda keras yang masuk jauh ke dalam vaginanya. Lhian merasa vaginanya dikoyak-koyak oleh penis Pak Gatot. Pak Gatot memaksa Lhian untuk terus menggerakkan pinggulnya naik turun, sehingga penis Pak Gatot dapat bergerak keluar masuk vagina Lhian dengan leluasa. Kedua Payudara Lhian besar menggantung bebas, naik turun seirama tubuhnya.

Kemudian Pak Gatot menjepit kedua puting susu Lhian dan menariknya ke arah dadanya, sehingga kini payudara Lhian berhimpit dengan dada Pak Gatot. Pak Gatot benar-benar terangsang saat merasakan kedua payudara Lhian yang kenyal dan hangat menempel rapat ke dadanya. Melihat posisi seperti itu, Pak Joko melepas ikat pinggangnya dan mulai mencambuk punggung dan bongkahan pantat Lhian beberapa kali. "Akkhh, aakhh, damn, shitt", Lhian kembali merasakan perih luar biasa pada punggung, pantat, dan pahanya. Cambukan Pak Joko sangat keras sehingga membuat garis lurus merah di kulit punggung pantat, dan paha Lhian.

Walaupun cambukan itu tidak terlalu keras, namun Lhian tetap merasakan perih dan panas di punggung dan pantatnya, sehingga dia berhenti menggerakkan pinggulnya. Merasakan bahwa gerakan Lhian terhenti, Pak Gatot marah. Kemudian dia mencengkeram kedua belah pantat Lhian dengan tangannya, dan memaksanya bergerak naik turun sampai akhirnya Lhian menggerakkan sendiri pantatnya naik turun secara refleks. Pak Gatot mencengkram pinggul Lhian, lalu membuat goyangan memutar sehingga ia merasakan sensasi luar biasa dengan goyangan mengebor Lhian itu. "Oohh, sshh, shh", Pak Gatot mendesah kenikmatan, sambil merasakan pantat Lhian yang empuk basah menduduki selangkanganya.

Ketika Pak Gatot hampir mencapai klimaks, dia memeluk Lhian dan berguling, sehingga posisi mereka kini bertukar, Lhian tidur di bawah dan Pak Gatot di atasnya. Sambil mencium bibir Lhian dengan sangat bernafsu dan meremas payudara Lhian, Pak Gatot terus menggenjot vagina Lhian. Tidak lama kemudian gerakan Pak Gatot terhenti. Pak Gatot mencabut penisnya keluar dari vagina Lhian dan segera menyemprotkan spermanya di sekitar bibir vagina Lhian. Kemudian dia menarik tangan kanan Lhian dan memaksa Lhian untuk meratakan sperma yang ada di sekitar vaginanya dengan tangannya sendiri.

Setelah itu Pak Heru, guru kimianya maju mengambil giliran memperkosa vagina Lhian. Ia mengangkat kedua kaki Lhian dan menyandarkannya diatas bahunya, Pak Heru menempelkan kepala penisnya di mulut vagina Lhian. Dengan kasar Pak Heru menyodokkan Penisnya dengan keras kedalam liang peranakan Lhian. Lalu ia mulai menggenjotnya. Hampir sepuluh menit Pak Heru memompa vagina Lhian dengan kasar, membuat vagina Lhian semakin terasa licin dan longgar. Sebelum mencapai puncaknya, Pak Heru mencabut penisnya dari vagina Lhian dan memaksa Lhian untuk membuka mulutnya lebar-lebar untuk menampung spermanya. Setelah itu, Pak Heru memaksa Lhian untuk berkumur dengan spermanya dan kemudian menelannya. Semua orang disitu tertawa senang melihat itu, sementara Lhian menahan jijik dan rasa malu yang luar biasa karena diperlakukan dengan hina seperti itu. Kini wajah Lhian terlihat mBLenger oleh sperma milik Pak Heru.

Semua posisi yang mungkin dibayangkan dalam hubungan seks sudah dipraktekkan oleh para Guru Lhian terhadap tubuh Lhian. Kali ini Lhian tidak kuat lagi menahan orgasmenya yang ke 20, dan dia mengalami orgasme hebat, namun tidak sehebat yang pertama. Cairan Vaginanya sudah mulai habis. Rongga vaginanya mulai mengering, karena cairan vaginanya sudah hampir habis dkeluarkan. Lhian merasakan sakit luar biasa pada rongga vaginanya. Ditambah penis para gurunya yang tak henti-hentinya menyodok dan menggesek rongga vaginanya yang kering, sehingga membuat rongga vaginanya lecet dan sobek. Hanya darah dari luka di rongga vaginanya lah yang membasahi daging kemaluannya dan burung yang tengah bersarang didalamnya.

Setelah delapan gurunya selesai memperkosa dirinya untuk kesekian kalinya, Lhian akhirnya pingsan karena kecapaian dan karena kesakitan yang menyerang seluruh tubuhnya terutama di vagina, anus dan juga kedua buah payudaranya. Lhian telah diperkosa secara habis-habisan selama empat jam lebih oleh gurunya sendiri. Dan semua kejadian itu direkam oleh Pak Bambang.

lebih-lebih ketika posisi kedua tangan Lhian yang terikat digantung keatas. Pak Andi menjilati dan menciumi ketik Lhian. "Mmuuahh, ketek lo montok banget sih, rasanya asin tapi gurih dan baunya haruumm" Liur Pak Andi membasahi ketiak Lhian. Lhian kembali disetubuhi dari 2 arah tentu saja lubang anus dan vaginanya. Lhian kini hanya bisa menggigit bibir sambil kakinya menendang-nendang ke segala arah, sambil sesekali seperti orang mengejan. "Ouughh, arrkhh, ouhh, udah paa..ak perih, sakiitt, ouughh, aa, akh" Lhian terus berontak seperti orang kesetanan. Karena dubur Lhian mulai mengering, Pak Andi kembali membasahi dubur Lhian dan batang penisnya sendiri dengan minyak goreng agar licin. Pak Andi menyodomi Lhian untuk ke 4 kalinya. Dilanjutkan dengan Pak Joko lagi, yang senang sekali main sodomi. Apalagi dapat pantat semontok pantat Lhian, ia semakin bernafsu menghancurkan anus Lhian (Anal Destruction).

Kemudian mereka kembali menelentangkan Lhian di lantai, lalu mereka maju semua mencari bagian-bagian tubuh Lhian yang bisa di gunakan untuk memuaskan penis mereka. Pak Joko memasukkan penisnya ke dalam mulut Lhian, dan memaksa mengulumnya. Pak Bambang menyarangkan Penisnya ke dalam memek Lhian yang berdarah-darah. Pak Andi melesakkan penisnya yang super besar dan panjang itu ke dalam lobang pantat Lhian yang sudah hancur. Pak Gatot menjepitkan penisnya di antara belahan payudara Lhian, kemudian menggosok-gosoknya sambil memelintir dan menarik puting susu Lhian yang coklat mungil dan membengkak. Pak Dono menaruh penisnya di tengah-tengah ketiak kanan Lhian yang gemuk putih dengan beberapa helai rambutnya, lalu menjepitnya dan memaju mundurkan penisnya di dalam jepitan ketiak Lhian. Sedangkan Pak Budi melakukan hal yang sama seperti yang dilakukan Pak Dono dengan Menjepitkan penisnya ke ketiak Lhian yang sebelah kiri. Sedangkan Pak Heru Meraih tangan kanan Lhian, kemudian memaksa tangannya mencengkram penisnya lalu membantu tangan Lhian untuk mengocoknya. Yang terakhir yaitu Pak Dion, melakukan hal yang sama seperti yang dilakukan oleh Pak Heru dengan tangan Kiri Lhian.

Akhirnya Lhian yang sudah tidak kuatpun pingsan, dengan Vagina dan anusnya yang dalam keadaan rusak parah, dan terus mengeluarkan darah, sisa sperma, dan sisa cairan vagina dan duburnya. Kedua payudaranya bengkak memerah dan lecet-lecet, puting susunya yang coklat mungil sobek. Darah dan sperma berceceran dimana-mana. Sudah puas para guru tersebut, mereka membersihkan diri lalu meninggalkan tubuh Lhian yang bugil dan berlepotan darah dan sperma dalam keadaan pingsan.

******

Setelah para guru Lhian pergi, muncullah beberapa siswa pria di sekolah Lhian yang diam-diam mengikuti gurunya. Ketika menemui tubuh Lhian yang pingsan dalam keadaan telanjang bulat. Mereka mulai memperkosa tubuh Lhian yang masih tidak sadar. Satu diantara mereka menelepon teman-temannya di sekolah. Sekitar 20 menit kemudian datanglah sekitar 40 siswa laki-laki di sekolah Lhian. Lalu mereka mulai menikmati tubuh Lhian secara bergantian ataupun bersama-sama. Ketika sadar, Lhian hanya bisa teriak dan memohon, ia tidak punya cukup tenaga untuk melawan. Ia hanya bisa menyaksikan dirinya diperkosa oleh teman-temannya sendiri. Teman-temannya yang sudah lama bermimpi bisa menyetubuhi Lhian, akhirnya tercapai juga.

Setelah puas semua, mereka meninggalkan tubuh Lhian yang pingsan lagi untuk kesekian kalinya itu. Liang vaginanya sudah menganga sangat lebar, merah membengkak, dan sudah tidak berbentuk lagi. Dengan darah segar yang terus mengalir dari lobang vaginanya. Lobang duburnya pun sudah sangat lebar dengan keadaan rusak parah dengan bentuk berantakan, dengan darah, sperma dan cairan kekuningan yang keluar terus menerus dari liang duburnya. Dan dari sela-sela bibirnya mengalir sperma dan air liur dari dalam mulutnya. Wajahnya tetap cantik dengan masih mengenakan kacamata selama ia diperkosa. Tetapi menampakkan penderitaan yang begitu berat.

Karena merasa kasihan, beberapa temannya mengantarkan Lhian ke kostnya. Lhian selalu merasakan perih dan rasa sakit yang teramat sangat ketika ia harus buang air kecil. Karena liang pengeluaran air seninya masih bengkak dan agak tertutup lipatan daging mulut vaginanya yang sobek. Dan juga ketika buang air besar, karena lobang duburnya membuka sangat lebar dan belum mau menutup kembali. Jadi setiap saat, anusnya mengeluarkan kotorannya tanpa Lhian sadari.

Jul
22
2011

Cerita Panas Kenikmatan Di Villa Baruku Bogor

Posted by admin 0 Responses

Cerita panas kali ini merupakan cerita sex yang paling baru karena salah satu hal yang terbaru bagi anak muda seperti saya ini. Mungkin bagi kalian sudah pernah melakukan hubungan badan, memang dikatakan enak juga enak dikatakan gak tapi enak jadi sulit mengertinya heeee. Sebenarnya hari Minggu itu aku tidak memiliki rencana pergi kemana-mana, karena pacarku sedang lembur di kantornya. Namun karena sedang malas di rumah dan baru saja gajian, akhirnya terlintas di pikiranku untuk jalan-jalan ke Bogor. Aku pun mencoba mengajak Ibu dan adik-adikku pergi.

“Kayaknya Ibu lagi nggak bisa ikut Teh… Lagi banyak kerjaan di rumah nih…” jawab Ibu beralasan sambil meneruskan mencuci pakaian.

Sekarang aku hanya bisa berharap kalau adik-adikku mau diajak pergi ke Bogor. Di luar dugaanku, ternyata jawaban mereka juga mengecewakan. Winnie tidak mau aku ajak pergi karena ingin bermalas-malasan di rumah saja, sedangkan Amar dan Dewi juga sudah ada janji dengan teman-temannya.

Walaupun tidak ada yang bisa menemaniku, aku tetap memutuskan untuk pergi seorang diri saja karena sedang malas menghabiskan waktu di rumah. Apalagi dengan pertimbangan hari masih sangat pagi, sehingga menurut perkiraanku walaupun naik kendaraan umum aku bisa sampai di kota Bogor sebelum makan siang. Sebenarnya aku sangat jarang pergi sendirian seperti ini, karena sudah terbiasa ditemani oleh pacar, teman maupun keluargaku.

Setelah selesai mandi dan berpakaian aku pun segera berpamitan kepada Ibu. Aku sengaja tidak bilang ke pacarku kalau aku akan pergi sendirian ke Bogor, karena dia pasti tidak akan mengizinkanku. Setelah naik angkot dari rumahku, aku pun sampai di jalan utama untuk menunggu bis yang akan mengantarku ke Bogor. Tidak berapa lama aku berdiri, bis yang aku nantikan pun datang.

Sungguh beruntung bis tersebut tidak terlalu penuh, sehingga aku dapat memilih tempat duduk sesuai dengan keinginanku. Walaupun bangku di barisan depan cenderung masih kosong, aku tetap memutuskan untuk mengambil duduk di pojok belakang. Memang sengaja aku mengambil tempat duduk di sana, supaya aku bisa tidur tanpa harus terganggu oleh orang lain.

Kalau dipikir lagi, mungkin aku nekat melakukan hal ini karena aku sudah sangat suntuk di rumah dan ingin sekali-sekali mencoba hal yang baru. Apalagi aku juga sudah cukup sering pergi ke Bogor bersama keluargaku, jadi aku tidak takut akan tersesat di sana. Namun memang ini adalah pertama kalinya aku bepergian ke Bogor dengan menggunakan kendaraan umum.

Setibanya di Bogor, aku langsung memanfaatkan waktu dengan berkeliling kota yang cukup terkenal dengan wisata belanja dan kulinernya. Tujuan pertamaku adalah factory outlet di sepanjang jalan utama. Yang namanya berbelanja memang sering membuat orang lupa waktu, tidak terasa waktu telah menunjukkan pukul dua siang. Aku lalu bersiap untuk mencari makan siang sebelum melanjutkan perjalanan.

Hari itu aku memakai pakaian yang terbilang cukup sopan, kaos putih ketat yang aku tutupi dengan jaket dipadukan dengan bawahan celana panjang berwarna abu-abu. Walaupun begitu, tetap saja masih banyak laki-laki iseng yang mencoba untuk menggodaku. Namun tentu saja tidak ada satupun yang aku hiraukan.

Setelah cukup puas berkeliling kota Bogor sendirian, aku pun berniat untuk pulang ke rumahku di kawasan Cibubur. Kalau tidak salah saat itu waktu sudah menunjukkan pukul 5 sore. Karena takut kemalaman, dengan tergesa-gesa aku menuju ke jalan utama untuk menyetop angkot yang akan mengantarku ke terminal bis.

“Macet banget sih… Udah kayak di Jakarta aja…” aku bergumam melihat banyaknya angkot memenuhi kota Bogor.

Karena merasa yakin kalau semua angkot akan melewati terminal, maka tanpa bertanya terlebih dahulu aku pun menaiki salah satu angkot yang sudah hampir terisi penuh dan bersiap untuk jalan. Dan benar saja, tidak berapa lama setelah aku duduk, angkot yang kutumpangi ini pun berangkat. Namun setelah sekitar 15 menit perjalanan, aku merasa kalau jalan yang dilewati oleh angkot ini bukanlah jalan yang kukenal.

Setelah aku bertanya kepada Ibu yang duduk di sebelahku, baru aku sadar kalau ternyata aku telah salah naik angkot. Dari penjelasan yang diberikan oleh beliau, aku harus berhenti di perempatan selanjutnya untuk kemudian berganti angkot. Namun belum juga sampai di perempatan, Ibu yang baik hati tadi berpamitan padaku karena sudah bersiap-siap ingin turun. Aku pun tidak lupa untuk mengucapkan terima kasih kepada beliau.

“Aduuh… Kok bisa-bisanya aku sampe salah naik angkot sih!?” aku berkata dalam hati menyesali kecerobohanku.

Selagi aku sedang melihat-lihat jalanan melalui jendela, tiba-tiba angkot berhenti dan dari pintu naiklah seorang pengamen. Aku tidak sempat memperhatikan penampilannya secara seksama, karena aku masih terus berkonsentrasi melihat ke arah jalanan supaya tidak semakin tersesat. Tetapi secara sekilas pengamen tersebut masih muda, dan bertubuh kecil. Aku juga masih ingat kalau dia menyanyi dengan suara yang tidak ada bagus-bagusnya.

“Bukannya ngehibur malah bikin tambah pusing aja nih pengamen…!” omelku dalam hati.

Untung saja aku pun akhirnya tiba di perempatan yang dimaksud oleh Ibu tadi. Seperti tidak ingin kehilangan waktu, aku segera turun dan membayar ongkos angkot. Tetapi karena daerah ini memang belum pernah aku lewati, aku semakin bertambah bingung harus menyetop angkot yang ke arah mana. Mau bertanya juga sudah tidak ada orang di tempatku menunggu.

“Bade kamana Teh?” tentu saja aku terkejut karena tiba-tiba saja ada suara laki-laki di belakangku bertanya dengan menggunakan bahasa Sunda.

“Emmh… Mau pulang ke rumah…” aku yang memang masih ada keturunan Sunda menjawab seadanya.

Sebenarnya aku cukup takut dengan penampilan laki-laki yang bertanya padaku ini, apalagi ditambah suasana sekitar yang sudah semakin gelap. Di belakang laki-laki tersebut ada dua orang temannya yang salah satunya ternyata adalah pengamen di dalam angkotku tadi.

“Teteh kasasab nya?” tanyanya lagi.

“Nggak kok…” jawabku berbohong kali ini dengan tatapan galak berharap laki-laki tersebut tidak akan bertanya apa-apa lagi.

Karena takut mereka akan berbuat jahat, aku pun berniat untuk pergi ke seberang jalan. Namun karena masih dalam keadaan takut, ketika hendak menyeberang aku terserempet oleh motor yang langsung kabur tanpa mau bertanggung-jawab terlebih dahulu. Tas dan barang belanjaanku sampai jatuh berserakan ke jalan, namun untung saja saat itu tidak ada kendaraan yang melintas.

Walaupun lukanya tidak parah, namun celana panjang yang aku gunakan sampai robek di bagian lutut. Setelah beberapa menit aku baru sadar kalau selain lututku yang berdarah, telapak tanganku yang sebelah kiri juga sedikit mengalami luka akibat menahan tubuhku yang jatuh ke aspal. Memang tidak ada bagian dari tangan maupun kakiku yang darahnya keluar dalam jumlah banyak, namun tetap saja aku takut kalau sampai terjadi infeksi.

Saat itu aku sudah pasrah saja bila tidak ada orang yang akan menolongku, karena tempatku tertabrak tadi cukup sepi. Untung saja ternyata ketiga laki-laki bertampang seram tadi memiliki sifat yang berbeda dengan penampilannya. Tanpa perlu aku meminta tolong, ketiganya berinisiatif untuk melihat keadaanku. Dua orang membantuku hingga sampai ke tempat yang cukup aman, sedangkan seorang lagi mengangkat barang bawaanku.

“Aduuuuuh…” aku mulai meringis kesakitan.

“Kunaon Teh? Raheut nya? Hoyong diobatin sarua urang?” tanya salah satu dari tiga orang tadi yang berperawakan gemuk dan memakai topi.

“I-iya bo-boleh…” aku sudah tidak memikirkan lagi mereka akan berbuat apa terhadapku karena luka ini memang harus segera diobati.

Tanpa membuang waktu lagi, dengan berhati-hati aku pun digotong oleh mereka lalu dibawa masuk ke dalam gang yang tidak jauh dari tempat tadi, hingga akhirnya aku pun sampai di sebuah rumah kecil dan kumuh. Setibanya di dalam rumah tersebut, aku dibaringkan di atas tikar yang sudah lusuh.

Salah seorang dari mereka membawakan aku minum, sedangkan yang lainnya membersihkan lukaku dengan air. Walaupun mereka hanya merawatku dengan peralatan seadanya, namun rasa perih di telapak tangan serta lututku sudah mulai hilang. Merasa kondisiku sudah lebih baik, aku pun bangkit dari posisi tidur hingga sekarang sudah duduk bersila.

“Makasih banget yah…” ucapku kepada mereka bertiga yang hanya dijawab oleh anggukan dan senyuman.

Aku yang merasa berhutang budi karena sudah ditolong oleh mereka, akhirnya memutuskan untuk memperkenalkan diri. Ternyata laki-laki yang pertama kali bertanya padaku bernama Dadan, rambutnya keriting seperti penyanyi Ahmad Albar namun dengan wajah yang jauh lebih seram. Usia Dadan masih 16 tahun. Satu lagi yang bertubuh sedikit gemuk dan memakai topi bernama Eman, dia juga seumuran dengan Dadan. Yang terakhir, si pengamen di dalam angkotku bernama Ujang, umurnya memang paling muda di antara mereka bertiga, yaitu masih 13 tahun. Wajar saja kalau dia memiliki tubuh paling kecil dibanding teman-temannya.

Dari obrolan kami berempat, aku bisa mengetahui kalau mereka ternyata adalah anak baik dan sopan namun hanya nasib mereka saja yang membuat ketiganya menjadi anak-anak jalanan. Perasan aneh mulai menjalari tubuhku karena mereka bertiga mengamatiku dengan tatapan lapar. Namun lama-lama aku menjadi terbiasa dan sekarang mereka yang menjadi malu sendiri.

Melihat tingkah laku ketiga anak jalanan tersebut, justru membuatku ingin terus menggoda mereka. Hitung-hitung sebagai balas jasa mereka yang telah merawatku. Supaya tidak terlihat murahan, aku berpura-pura meringis-ringis minta perhatian ke mereka bertiga walaupun aku sudah tidak merasakan sakit sama sekali. Tentu saja mereka semakin berani memegang lutut dan tanganku, bahkan hingga ke bagian yang tidak terluka.

Kadang mereka sedikit berbasa-basi “Peurih bagian nu mananya Teh?”

Tetapi sepertinya mereka sudah mulai merasa kalau aku memang sengaja menggoda mereka bertiga. Kadang-kadang mereka seperti jual mahal, namun mata mereka masih terus memperhatikan wajah serta tubuhku. Aku pun mulai beraksi dengan membuka jaketku hingga sekarang bagian atas tubuhku hanya tertutup oleh kaos putih yang ketat.

Buruknya wajah mereka bertiga yang justru menjadi sensasi tersendiri bagiku. Raut wajah Dadan, Eman dan Ujang sungguh seperti orang yang sudah dikuasai hawa nafsu. Namun mungkin karena mereka masih menghormati aku sebagai perempuan yang lebih tua umurnya, maka mereka tidak ada yang berani untuk bertindak aneh-aneh.

Melihat mereka masih belum ada yang berinisiatif untuk melakukan hal yang lebih jauh lagi, maka aku pun terus berusaha untuk memancing mereka.

“Kalian udah pada punya pacar belum?” aku memulai pertanyaanku.

“Urang sarua si Eman enggeus boga Teh…” jawab Dadan.

“Kalo kamu Jang?” tanyaku kepada Ujang.

“Ujang mah tacan atuh Teh… Kan Ujang masih budak leutik…” jawab Ujang sambil tersenyum polos.

“Cakep yah pacar kalian?” lanjutku sambil melihat bergantian ke arah Dadan dan Eman.

“Yah henteu lah Teh… Mana meureun urang bisa nyaho awewe geulis…” sahut Dadan dengan logat Sunda yang kental.

“Bener Teh… Enggeus bagus masih aya awewe nu hoyong… Hehehehe…” timpal Eman sambil tertawa yang semakin memperlihatkan giginya yang hitam.

“Kalo Teteh cakep nggak? ” pancingku.

“Teteh mah geulis pisan atuh…!!” jawab mereka bertiga hampir serempak sehingga membuat kami tertawa.

Merasa suasana sudah semakin akrab, aku mendekati Dadan yang sepertinya paling berpengalaman dibandingkan kedua temannya. Kemudian aku menaruh tangan ke bahunya lalu menatap wajahnya yang jauh dari tampan. Aku sadar kalau laki-laki ditatap seperti itu pasti mereka akan menjadi salah tingkah.

Sesuai dengan rencanaku, Dadan yang sudah tidak dapat menahan nafsunya langsung melumat bibirku. Mungkin karena ingin melihat reaksiku, pertama-tama Dadan hanya sekedar mencium bibirku saja. Namun setelah melihat tidak ada penolakan dariku, lidahnya langsung berusaha masuk ke dalam mulutku.

Aku dan Dadan mulai berciuman dengan lebih bergairah. Lidahnya bermain dengan liar di dalam mulutku hingga liur kami menetes-netes di pinggir mulut. Perasaan geli, jijik dan nikmat bercampur menjadi satu bersamaan dengan gejolak birahiku yang mulai naik. Dadan semakin membangkitkan gairahku ketika tangannya meremas-remas payudaraku dari luar.

“Emmmmmmhh…” aku mendesah saat tangan kasarnya mulai menyusup ke bagian dalam bajuku.

Ketika melirik ke arah Eman dan Ujang, mereka hanya diam menyaksikan temannya sedang bermesraan denganku. Namun karena sudah tidak tahan, Eman yang memang sudah lebih dewasa dan mengerti dari Ujang, berpindah duduk ke belakangku. Lalu dia mulai mengelus-elus punggung serta pahaku yang masih tertutup pakaian lengkap. Dikerubuti oleh dua orang seperti itu membuat detak jantungku bertambah kencang serta nafasku semakin memburu.

Yang satu mencium bibir dan meraba-raba payudaraku dari depan, sedangkan yang satu lagi memegang pahaku dari belakang sambil terkadang menciumi leher mulusku. Terkadang begitu ada kesempatan Eman langsung bergantian dengan Dadan untuk meremas-remas payudaraku. Namun berbeda dengan Dadan yang meraba payudaraku dengan pelan, Eman meremasnya dengan kencang, padahal saat itu masih ada bra-nya sehingga membuatku merasa sedikit kesakitan.

“Uuuuh… Pelan-pelan dong…!” aku sempat kesal juga dengan perlakuan Eman.

Namun karena aku terdengar marah, Dadan dan Eman menghentikan perbuatan mereka berdua. Padahal maksudku agar Eman tidak terlalu kencang meremas kedua payudaraku. Namun kesempatan ini aku manfaatkan untuk membuka bajuku. Mata Dadan melihat tubuh bagian atasku yang hanya tertutup bra dengan tatapan nakal sehingga membuat jantungku semakin berdebar.

Apalagi ketika aku dengan gaya menggoda mulai membuka bra hitam milikku, mata Dadan terlihat semakin membesar dan mulutnya terbuka lebar.

“Kenapa Dan? Mau coba megang?” tanyaku tanpa rasa malu.

“Me-memangnya dibere ku Te-teteh?” kata Dadan dengan tergagap-gagap.

“Ya iyalah boleh…” kataku sedikit kesal karena Dadan masih saja bersikap lugu.

Diberi kesempatan seperti ini, tentu saja tidak disia-siakan oleh Dadan. Pelan namun pasti, tangannya mulai bergerak ke arah payudaraku yang sudah tanpa penutup apa-apa lagi. Pertama-tama tangannya yang kasar hanya menempel di permukaan payudaraku saja, tetapi semakin lama dia semakin berani. Mulai dari memegang dan memilin-milin putingku yang berwarna coklat, hingga meraba dan meremas seluruh permukaan payudaraku.

Namun yang membuatku terkejut, tidak lama setelah itu tangannya berganti dengan mulutnya. Lidahnya menempel di putingku. Terasa geli bercampur dengan nikmat, apalagi saat putingku disedot olehnya. Sepertinya Dadan sudah terbiasa melakukan hal ini dengan pacarnya.

Eman yang tidak mau ketinggalan dengan temannya, bergantian untuk berciuman denganku. Bibirnya yang tebal itu mulai melumat habis bibirku. Tetapi perlu diakui kalau ternyata lebih enak berciuman dengan Eman dibandingkan dengan Dadan, karena dia terlihat lebih ahli. Selagi aku melayani dua orang ini, ternyata Ujang yang tadinya kupikir tidak mau ikut-ikutan karena masih terlalu kecil, mulai mengelus-elus seluruh bagian tubuhku yang lain dari arah belakang.

“Teh Tita… Dileupas atuh calananya…” bisik Ujang di telingaku yang benar-benar membuatku terkesima sesaat.

“Kirain si Ujang masih polos… Taunya sama juga…” aku berkata dalam hati.

Dengan perlahan-lahan aku menaikkan pantat untuk memudahkanku membuka celana panjang. Dengan tidak sabaran Ujang pindah ke depan, kemudian dia ikut membantuku membuka celana panjang beserta celana dalam milikku lalu melemparnya cukup jauh. Kini hanya tinggal jam tanganku saja yang masih tersisa. Namun kelihatannya hal tersebut tidak menjadi masalah, karena bagian lain dari tubuhku yang putih mulus sudah terpampang jelas di depan ketiga anak jalanan ini.

“Teh Tita beuki geulis lamun taranjang… Hehehe…” kata Eman sambil tertawa melecehkan.

“Bodas pisan euy awakna Teh Tita…!! Jadi beuki mangkrang ieu…!!” Dadan ikut menimpali.

Tawa dan ejekan nakal mereka karena pada akhirnya dapat menyaksikan tubuhku yang dalam keadaan polos tidak membuatku marah. Hal tersebut justru menyebabkan aku semakin menginginkan mereka bertiga menikmati tubuhku lebih jauh lagi dari yang sebelumnya.

“Kalian juga telanjang dong…” aku menantang mereka supaya ikut melepaskan pakaian.

Dengan segera, mereka semua membuka pakaian lusuh yang menempel di tubuh mereka. Yang terjadi selanjutnya bener-bener membuatku terkesima, yaitu aku melihat kalau ukuran penis milik mereka bertiga cukup besar untuk anak seusia mereka. Memang tidak sepanjang penis milik adikku, namun diameternya lebih besar dan berwarna lebih hitam. Paling hanya milik Ujang saja yang masih seperti penis anak-anak, kira-kira hanya mencapai 12 cm saja dengan bulu-bulu kemaluan yang masih baru tumbuh.

Setelah kami semua sudah dalam keadaan telanjang, permainan pun dilanjutkan. Anak-anak berusia tanggung tersebut mulai mengerayangi tubuhku lagi.

“Teh Tita cicing wae nya… Antep urang tiluan nu puaskeun…” perintah Dadan kepadaku.

Aku hanya dapat mengangguk lemah. Seolah sudah mendapatkan persetujuan dariku untuk berbuat apapun, tiba-tiba Dadan langsung merebahkanku hingga aku kembali ke posisi tiduran. Dadan mengangkat kaki sebelah kananku lalu dia taruh di pundak kirinya. Kemudian tangannya langsung meraba-raba bibir vaginaku yang mulai basah sambil jari telunjuknya mencoba untuk masuk.

Sesekali jari-jarinya bergerak ke atas dan bawah menelusuri lembah kenikmatan milikku. Tidak cukup puas hanya memainkan vaginaku saja, mulut Dadan lalu menghisap pelan puting payudaraku. Perlakuan Dadan membuat aku semakin merasa terbang saja. Semakin lama tangan Dadan yang menempel di vaginaku bergerak semakin liar, jari-jarinya dengan cekatan memainkan klitorisku.

“Mmmmmhh… Aaaaaaaaaaah…” aku sudah tidak dapat lagi menahan desahanku akibat permainan Dadan.

Melihat temannya yang sudah kembali menikmati tubuhku, Eman sepertinya juga sudah tidak tahan lagi untuk ikut mencicipinya. Dia mengambil posisi jongkok di sebelah Dadan, kemudian Eman meminta Dadan untuk menggeser posisinya agar dia juga dapat menikmati vaginaku.

Namun ketika aku mengira Eman akan menggunakan jari-jarinya juga, dia malah mencium dan menjilati vaginaku yang sudah semakin basah. Melihat vaginaku yang tidak berbulu dan sudah dalam keadaan basah pasti membuat Eman tidak tahan untuk menikmatinya dengan mulut.

“Aaaaaahhh… Ooouuuuhhh… Aaaaaaaaahhh…!!” aku mengerang saat lidah hangat Eman menjilati belahan vaginaku serta mencoba untuk masuk.

Lidah Eman mulai bermain lebih cepat di bibir vaginaku, kurasakan nafasnya berhembus di vaginaku disusul sapuan lidahnya pada bibir vaginaku yang menyebabkan tubuhku menggelinjang nikmat.

“Aaaaaaaaahh…!! Te-teruuss Maaaan!! E-enaaaaak…!! I-iyaaaaahhh…!!” erangku ketika Eman dengan nakal menyedot klitorisku dan menyeruput cairan cintaku yang keluar semakin banyak.

Sementara itu jari milik Dadan juga masih bermain di klitorisku. Sungguh perasaan yang luar biasa nikmat. Tubuhku sampai bergerak-gerak semakin tidak beraturan karena menikmati yang dilakukan oleh mereka berdua.

Karena penasaran dengan yang mereka berdua lakukan, dengan sengaja aku mengangkat tubuhku lalu bertumpu pada kedua siku tanganku, sehingga kini aku dapat melihat lebih jelas wajah Eman dan Dadan yang penuh nafsu saat melumat vagina dan payudaraku.

Setelah sekitar 15 menit mereka berdua memainkan payudara serta vaginaku, aku mulai merasa sedikit lagi akan mencapai orgasme.

“Ooouuugghhhh… Teruuuuussss… …!! Teteeeeeeh mauuuu keluaaaaaaar…!!!” aku mengerang kencang dengan badan melengkung ke belakang ketika akhirnya aku merasakan orgasme yang luar biasa.

Kami bertiga saling bertatapan dengan senyum penuh arti, kemudian dengan bergantian Dadan dan Eman melumat bibirku dengan mesra.

“Jang…! Ulah cicing wae… Hayu milu atuh…!” ajak Dadan ketika sadar kalau dari tadi Ujang hanya berdiam diri saja.

“Lain kitu Kang… Ujang dagoan Kang Dadan jeung Kang Eman nganggeuskeun ngaletak henceut Teh Tita…” kata Ujang.

Aku yang tadinya juga heran kenapa Ujang tidak ikut menikmati tubuhku, akhirnya dapat mengerti kalau ternyata dia tidak ingin berebut dengan teman-temannya untuk bermain di vaginaku.

“Hahahaha… Aya-aya wae si Ujang… Hayu lah kadieu…!” panggil Dadan sambil terus tertawa.

Dengan wajah senang Ujang mendekati vaginaku yang memang menjadi incarannya. Pertama-tama dia meraba dan mengelus pahaku yang begitu halus dan putih. Aku menggelinjang kecil karena kaget dan juga merasakan kenikmatan yang menjalar diseluruh bagian tubuh. Selanjutnya mulut Ujang mendekati kakiku, kemudian diciumi dan dijilatinya kedua paha mulusku secara bergantian hingga menuju ke atas.

‘Sluuurp… Sluuuuurppp…’ terdengar olehku bunyi jilatan Ujang ketika lidahnya sudah berada di kemaluanku yang masih sangat basah akibat perlakuan dua temannya.

“Hmmmmm… Ujaaaaang… Aaaaaahh…” sungguh hal tersebut membuatku mendesah lemah.

Sementara itu Dadan dan Eman yang sudah puas menikmati kemaluanku, mulai menjelajahi tubuh bagian atasku. Tangan-tangan kasar mereka tidak henti-hentinya menjamahi tubuhku. Sepertinya tidak ada satu pun bagian tubuh milikku yang ingin dilewatkan oleh mereka. Aku hanya bisa memejamkan mata merasakan mereka bertiga meremas-remas kedua payudaraku, memilin-milin putingku serta menjilati vaginaku.

Mendapat serangan dari atas dan bawah oleh tiga orang sekaligus, tubuhku semakin menggeliat-geliat dengan liarnya.

“Ooohhhh… Ssssshhhhh… Aaaagghhhh…” aku melenguh menikmatinya.

“Sluuuurrpp… Seungit pisan euy henceut Teh Tita… Sluuuurp…” gumam Ujang sambil terus menjilati dan menghisap-hisap vaginaku.

“Awaknya oge seungit…! Pinareupnya sanajan leutik tapi ngeunahkeun…!!” Dadan ikut berkomentar selagi mulutnya berhenti menghisap payudaraku namun digantikan oleh remasan-remasan tangannya.

Sementara itu bibir dan lidah Eman mulai bergerilya dari mulutku untuk kemudian menciumi telinga, tengkuk serta leherku. Di saat bersamaan, Ujang semakin menggila dengan perbuatannya, bukan saja mulutnya yang beraksi tetapi sekarang jari-jari tangannya mulai bermain di lubang kemaluanku. Pertama hanya jari tengahnya saja yang Ujang masukkan ke dalam lubang vaginaku dan dikocok-kocokannya, lama-lama jari telunjuknya pun ikut keluar masuk yang membuat vagina itu semakin basah oleh cairan kenikmatan milikku.

“Uuuuuhh… Aaaaaahhh… Oouuuuuhhh…” desahan dan lenguhanku semakin menjadi-jadi.

Mendengar aku mendesah-desah keenakan, jari Ujang mulai mempermainkan klitorisku. Dia menggosok-gosokkan jari dan lidahnya pada daging kecil yang sensitif itu. Tubuhku sampai bergetar ketika merasakan sapuan lidahnya pada klitorisku. Pijatan lembut telunjuk dan ibu jarinya pada klitorisku membuat pinggulku meggeliat-geliat. Tubuhku semakin menggelinjang karena kelihatannya aku akan segera mencapai puncak kenikmatan.

“Ooohh… Ujaaaaaaang!!!” desahku sambil kedua tanganku meremas-remas rambut Ujang, sementara kepalaku bergerak ke kanan dan ke kiri.

Tidak sampai satu menit kemudian, tubuhku akhirnya mulai mengejang-ejang karena tidak tahan lagi menerima rangsangan yang terus-menerus datang. Aku pun semakin merapatkan kepala anak itu ke arah vaginaku. Rupanya walaupun usia Ujang masih sangat muda, namun dia mengerti bahwa aku sudah ingin mencapai puncak. Dihisapnya vaginaku kuat-kuat serta ujung lidahnya dengan cepat menjilati bagian dalam kewanitaanku.

“Aaaaaaaaaaaaaakh…!!” teriakku tidak tertahankan dengan tubuh menggeliat-geliat ketika akhirnya aku mencapai orgasme yang kedua kalinya.

Bagaikan sedang menikmati buah yang manis, Ujang terus menyeruput cairan yang ada di seputar kemaluanku tanpa merasa jijik. Tentu saja hal ini membuatku menggelinjang tiada henti.

Setelah puas mencicipi cairan kemaluanku, Ujang menengadah dan menatapku lalu berkata “Rasanya kareueut pisan Teh…!”

“Teh… Urang tos teu kiat hoyong ngewe jeung Teteh…” tanya Dadan dengan terus terang.

Sebenarnya tubuhku masih lemas, namun aku juga sudah tidak sabaran ingin merasakan vaginaku ditusuk bergantian oleh penis mereka bertiga. Lagipula aku tidak mau membuang-buang waktu untuk berlama-lama di tempat ini.

“Ya udah… Tapi ganti-gantian yah…” kataku menyanggupi permintaan mereka karena sudah dalam keadaan sangat terangsang.

“Se-serius Teh?” tanya Dadan meyakinkan pendengarannya.

Aku tidak menjawab pertanyaannya, namun hanya melemparkan senyum menggoda. Dapat aku lihat juga mata Dadan dan teman-temannya yang terbelalak mendengar perkataanku. Kelihatannya tidak satupun dari mereka bertiga yang menyangka kalau dengan mudahnya kata-kata itu akan meluncur dari mulut perempuan sepertiku. Mungkin kalau sekedar melakukan hal seperti tadi mereka masih bisa mengerti, tetapi pasti tidak pernah terbayang di pikiran mereka kalau aku sampai mau diajak bersetubuh.

“Aing kahiji nya Dan… Enggeus teu sabar…” pinta Eman kepada Dadan dengan tidak sabaran.

“Sok lah…” jawab Dadan.

Mungkin sebenarnya Dadan sudah tidak tahan lagi untuk segera menyetubuhiku, namun karena dia berpikir nanti juga akan kebagian, maka dia mempersilahkan Eman untuk mendapat giliran yang pertama. Aku hanya bisa diam dan menurut saja. Apalagi aku juga sudah penasaran untuk dapat merasakan penis Eman yang berwarna hitam dan berukuran paling panjang dibandingkan dengan yang lain.

Begitu mendapatkan persetujuan dari temannya, kakiku langsung dilebarkannya.

“Ooooooohhh… Pelaaan-pelaaaaaan Maaan…!! Jangaaaaan dipaksaiiin…!!” pintaku karena vaginaku terasa sakit ketika Eman dengan kasar menekan penisnya masuk.

Kelihatannya Eman memang cenderung kasar dalam bercinta yang tentu saja berlawanan dengan Dadan yang lebih lembut. Penis Eman membuat vaginaku yang sempit mulai melebar mengikuti ukuran penisnya yang lumayan besar, sehingga saat ini aku mulai dapat menikmati permainan kasarnya.

“Eleuh-eleuh… Heureut pisan euy henceutnya Teh Tita…!!” teriak Eman yang disambut gelak tawa teman-temannya.

Seolah tidak mau melihat ke arah Eman, aku pun memalingkan wajahku ke arah kanan. Namun jujur saja aku sungguh menikmati penisnya yang mulai masuk semakin dalam, apalagi Eman juga mulai meremas-remas payudaraku. Ketika sedang menikmati hujaman penis Eman saat sudah masuk seluruhnya, tiba-tiba di depan wajahku sudah ada sebuah penis yang berukuran lebih kecil. Dengan rasa penasaran aku melihat ke arah atas, dan ternyata penis tersebut adalah milik Ujang.

“Kenyotin kanjut urang nya Teh…” kata Ujang minta penisnya supaya dihisap olehku.

Karena sudah sangat terangsang, tanpa ragu lagi aku membuka mulut dan menelan benda kecil namun keras milik Ujang. Mulailah aku mempraktekkan teknik oralku padanya. Pertama-tama aku mulai dari kepala penisnya dulu, bagian itu kujilati dan kuemut-emut sambil tanganku mengocok pelan batangnya. Kemudian dengan perlahan aku menjilati batang penisnya menggunakan lidahku yang lembut.

“Uuggghh… Ngeunaaah pisaaan kenyotaaan Teh Titaaa…!!” komentar Ujang sembari meremas rambut tebalku.

Kepalaku mulai naik-turun mengemuti penisnya yang semakin mengeras saja. Tubuh Ujang pun langsung gemetar. Kelihatannya dia sangat menikmati jilatanku barusan. Tetapi tentu saja aku tidak bisa berkonsentrasi untuk menghisap penis Ujang, karena Eman semakin kencang memompa vaginaku. Terkadang aku merasa ada sedikit cairan spermanya yang keluar di dalam vaginaku. Belum lagi remasan-remasan tangan Eman pada payudaraku yang membuatku semakin melayang.

Tanpa perlu diundang olehku sekarang Dadan juga ikut-ikutan, dia duduk di sebelah kiriku kemudian menghisap puting payudaraku yang sudah mencuat keluar. Berarti saat ini ada tiga orang yang mengerubutiku. Yang pasti semua orang di dalam ruangan ini, termasuk aku, sedang merasa keenakan.

Tanpa sengaja aku melihat penis milik Dadan yang berukuran cukup besar dan keras, aku langsung saja meremas-remas penis tersebut dan mulai kukocok-kocok. Sepertinya Dadan sangat menikmatinya sampai-sampai dia semakin bersemangat menghisap payudaraku.

Dengan perlahan aku menarik penis Dadan ke samping wajahku, hingga sekarang posisi penisnya dengan milik Ujang berseberangan. Aku pun bergantian mengocok dan menghisap penis Dadan dan Ujang.

“Gelo euy si Teteeeh maaah… Ehmmm… Jagooo pisaaan ngenyotnyaa…!! Aaaaah…!!” puji Dadan sambil merem-melek dan menggelengkan kepalanya.

“Aaaahhhhh…!! Teteeeeeeh…!! U-uraaaaaang kaluaaaaaar…!!” tiba-tiba Eman berteriak.

Penisnya juga dapat kurasakan semakin mengeras di dalam vaginaku.

“Maaan… Maaaan…!! Keluariiin di luaaaar Maaan…!!” teriakku panik.

Aku tidak ingin kalau Eman sampai mengeluarkan spermanya di dalam vaginaku, karena aku tidak rela punya anak dari orang sepertinya. Untunglah Eman sempat mengeluarkan penisnya tepat waktu. Penisnya diangkat tinggi-tinggi sambil terus mengocoknya tepat di atas dadaku.

‘Crooott… Croooottt…’ sperma Eman keluar banyak sekali hingga mengenai perut dan payudaraku.

“Aaaaah… Edun euy…!! Ngeunah pisan…!!” kata Eman keenakan.

“Ayeuna giliran aing nya Kang Dadan?” tanya Ujang dengan muka memohon supaya diberi ijin oleh Dadan.

“Sok atuh Jang…” jawab Dadan yang kali ini terlihat sekali wajah tidak relanya karena harus mengalah lagi.

Tentu saja Ujang senang bukan main karena mendapatkan giliran selanjutnya. Pertama-tama, layaknya anak kecil sedang menikmati permen, lidahnya bergerak menyentil-nyentil puting payudaraku hingga semakin mengeras. Tidak lama kemudian dihisapnya payudaraku sebelah kiri dan kanan secara bergantian. Tangan Ujang juga tidak tinggal diam dan mulai menggerayangi tubuh telanjangku.

“Ehhmm… Ujaaaaaang…” aku mengerang nikmat.

Mulut Ujang kemudian turun ke perut hingga sampai di vaginaku. Mata anak itu terbuka lebar menatapi vaginaku yang sengaja aku cukur halus. Secara refleks aku melebarkan kedua kakiku sehingga memudahkan Ujang untuk menjilati vaginaku. Pasti saat ini Ujang dapat mencium aroma lendir kewanitaan yang keluar dari vaginaku.

“Oooooooooohh…!” Aku mendesah panjang sambil menggenggam erat ujung tikar ketika lidah Ujang terus menyapu kemaluanku.

Ujang membuka bibir vaginaku dan mulai menyedotnya dengan rakus sehingga aku mengerang-erang dengan penuh gairah. Semakin lama lidahnya menari semakin liar menjelajahi seluruh bagian dari kemaluanku. Aku dapat merasakan cairan vaginaku meleleh deras seiring dengan rangsangan yang semakin kuat. Sungguh aku merasa semakin nikmat merasakan lidah Ujang yang sesekali menyelinap ke dalam vaginaku.

“Aaaahhh… Mmmmhhh… Jaaaang…!!” aku berteriak nikmat sambil tanganku tidak henti-hentinya memegangi kepala Ujang.

Ketika Ujang merasa sudah cukup melakukan pemanasan terhadap vaginaku, kini tiba saatnya untuk dia merasakan bersetubuh denganku. Penis kecil milik Ujang yang sudah dalam keadaan ereksi penuh, mulai digesek-gesek ke bibir vaginaku. Saat berikutnya, benda tersebut mulai menekan masuk ke dalam lubang kemaluanku. Mungkin karena ukurannya yang kecil, maka penis tersebut tidak terlalu membuatku merasakan nikmat seperti tadi.

“Teh Tita… Ayeuna Teteh nonggeng nya…” pinta Ujang kepadaku untuk berganti posisi.

Tentu saja aku sempat heran anak seusia Ujang sudah mengerti posisi-posisi dalam berhubungan intim. Pasti karena dia bergaul dengan anak yang lebih dewasa darinya. Namun aku yang tidak mau berlama-lama memikirkan hal tersebut membalikkan tubuhku hingga sekarang aku bertumpu dengan kedua tangan serta lututku. Dalam posisi ini, payudaraku yang bergantung dengan bebas terlihat lebih besar.

Ujang yang sudah mengambil posisi di belakangku, menggenggam penisnya kemudian mengarahkan ke liang vaginaku. Tetapi bukannya Ujang langsung memasukkan penisnya, sekarang dia justru memainkan vaginaku menggunakan tangannya. Walaupun begitu tetap saja aku merinding keenakan, apalagi dengan kenyataan bahwa yang sedang melakukan itu adalah anak yang masih berumur 13 tahun!

Ketika sedang menikmati jari-jari tangan Ujang di selangkanganku, dengan tiba-tiba Ujang langsung menusukkan penisnya ke dalam vaginaku.

“Heeeeeekh…!!” aku sampai sedikit tersentak karena menerima hujaman keras secara tiba-tiba seperti itu.

Kutengokkan kepalaku ke belakang dan kutatap Ujang dengan raut muka sedikit kesal. Seolah tidak terjadi apa-apa, Ujang terus menyetubuhiku tanpa ada perasaan bersalah.

“Dasar bocah nggak tau diri…!!” aku mengumpat dalam hati.

Perlahan telapak tangan kecilnya mulai mengelus dan meremas pantatku, sambil sesekali juga mengusap punggung mulusku. Ternyata dengan posisi seperti sekarang, penis Ujang semakin terasa nikmat. Apalagi sodokannya cukup mantap seperti sudah sering dilatih. Tubuhku tersentak maju dan mundur mengikuti gerakan penis Ujang pada kemaluanku.

“Aaaahh… Aaaaahh… Ooohh…” aku hanya dapat merintih-rintih dengan lirih.

“Teh Tita geus ngarasa ngeunah tuh Jang… Asupkeun leuwih gancang deui…!” perintah Eman.

Mendengar ucapan temannya tadi, penis Ujang keluar dan masuk dengan lebih cepat. Namun rasanya jadi semakin nikmat, tidak kalah dari permainan Eman. Aku saja sampai merasa lemas dalam posisi menungging seperti ini. Tangan Ujang sesekali juga digunakan untuk meremas pelan payudaraku dari belakang. Kadang-kadang dia juga mencium leherku.

Tetapi dikarenakan postur tubuhnya yang lebih pendek dariku, dia cukup kesulitan untuk melakukannya. Aku dapat merasakan nafas Ujang yang semakin memburu seperti orang yang sedang melakukan olahraga. Keringat miliknya menetes cukup banyak di punggungku yang juga sudah dalam keadaan basah.

Sampai akhirnya sodokan Ujang terasa semakin keras dan cepat, otot-otot vaginaku seperti tertarik keluar. Aku pun tidak tahan dan mencapai orgasme lagi.

Tidak lama kemudian Ujang juga sudah tidak dapat menahan lagi untuk menahan klimaks “Aaaaahhhh…!! Teteeeeeh!!”

Ujang menyemprotkan spermanya ke punggungku dalam jumlah yang tidak kalah banyak, bahkan mungkin melebihi jumlah sperma milik Eman. Aku yang sudah merasa sangat lemas, langsung jatuh di atas tikar dengan posisi tengkurap. Ternyata Ujang juga sudah terlebih dahulu tiduran di sebelahku.

Lelah sekali rasanya disetubuhi oleh dua orang bergantian seperti tadi, walaupun ini bukanlah yang pertama kalinya aku berhubungan seks dengan lebih dari satu orang.

Saat sedang beristirahat, aku merasakan ada tangan jahil yang memegang-megang vaginaku. Ketika aku menengok ke belakang ternyata Dadan yang melakukan hal itu.

“Teteh masih capek Dan…” jawabku pelan.

“Yaaah… Kan urang tacan kabagian Teh…” katanya memelas.

Aku baru ingat kalau ternyata hanya tinggal Dadan yang belum kebagian menikmati bersetubuh denganku.

“Iya udah… Tapi ambilin Teteh air minum dulu yah… Haus nih…” kataku ketika melihat kalau air di gelasku sudah habis.

Langsung saja Dadan mengambil gelasku yang kosong, kemudian berlari untuk mengambil air di belakang. Ketika dia kembali langsung saja aku habiskan tanpa tersisa. Baru saja aku selesai menghabiskan air minum tersebut, Dadan langsung merebahkanku lalu menempatkan kepala penisnya di mulut vaginaku.

Dadan mulai menggerakkan kepala penisnya di depan belahan vaginaku. Kelihatannya dia terus mencoba untuk merangsangku terlebih dahulu. Tentu saja diperlakukan seperti itu terus-menerus, aku pun mulai terangsang dan vaginaku sudah mengeluarkan cairan pelumasnya sehingga penis Dadan mulai dapat masuk lebih dalam.

Penis Dadan akhirnya dapat masuk juga seluruhnya ke dalam vaginaku. Sungguh sakit sekaligus nikmat rasanya, aku sampai menahan agar tidak berteriak ketika dia mendesak masuk penisnya. Aku baru sadar kalau ternyata penis milik Dadan, walaupun masih kalah panjang, namun berdiameter lebih besar dari Eman. Sampai-sampai aku menggigit bibir ketika menikmati penis kerasnya yang dengan teratur menusuk masuk lalu ditarik keluar.

“Enaaaaaaaak euuuy…!!” teriak Dadan dengan gayanya yang kampungan.

Berulang-ulang Dadan mengeluarkan penisnya dari vaginaku sebelum akhirnya ditusuk masuk lagi. Setiap kali penisnya masuk, aku berteriak-teriak keenakan. Eman dan Ujang hanya tertawa-tawa melihatnya. Akhirnya aku mulai terbiasa dengan penis Dadan yang sedang memompa vaginaku.

Aku sampai tidak memikirkan kalau yang sedang menyetubuhiku adalah seorang anak jalanan. Bahkan aku juga tidak sadar kalau sedang berpelukan dan menciumi Dadan mulai dari kening hingga pipinya, sebelum akhirnya kita berciuman bibir lagi.

Tubuhku sekarang sudah penuh dengan keringat dikerjai oleh tiga orang. Entah sudah berapa lama aku disetubuhi oleh Dadan hingga aku merasa akan menggapai orgasme lagi. Tetapi tepat sesaat sebelum aku menjerit, Dadan semakin keras menekan penisnya yang berdenyut kencang tanda akan mencapai puncak.

Dan benar saja seperti dugaanku tidak lama kemudian Dadan berteriak “Aaaaaaahh…!! Uraaang hoyoooong kaluaaaar Teeeeh…!!”

“Teruuus… Teruuuus… Lebiiih kenceeeng Daaaan…” teriakku tidak kalah keras.

Dalam keadaan nikmat seperti itu tentu aku hanya bisa pasrah apabila dia mengeluarkan cairan spermanya di dalam vaginaku.

“Arrgghhhh… Teeh Titaaaaa…!!” Dadan menggeram lalu menembakkan spermanya yang kental ke dalam rahimku.

“Aaaaahhh… Daaaan… Teteeeeh jugaaaaa keluaaaaar…!!” aku ikut merintih ketika tidak lama kemudian juga mencapai orgasme untuk yang kesekian kalinya.

Cairan milik Dadan keluar begitu banyak mengisi vaginaku, sehingga sebagian ada yang menetes keluar. Aku memeluk erat tubuh Dadan karena merasa sangat puas dan nafasku juga sudah terasa mau habis. Terasa di dalam vaginaku pelan-pelan penis Dadan mulai mengecil hingga akhirnya dia cabut. Untung saja saat itu bukan masa suburku sehingga aku dapat bernafas lega.

Aku yang sudah sangat lelah meminum air putih dalam jumlah banyak karena sangat haus. Lalu aku pun tidur-tiduran sebentar karena merasa sangat lemas. Sungguh lengket rasanya badan dan kemaluanku karena bermandikan keringat dan sperma. Namun aku tidak menyesal telah mendapatkan pelayanan dari mereka. Padahal tadinya kukira mereka bertiga belum mengerti cara melakukan hubungan seks.

Ketika kami sedang beristirahat, mereka bertiga memanfaatkan waktu untuk mengenalku lebih jauh. Karena udara di luar lumayan dingin, Dadan dan Eman mulai menyalakan rokok. Aku yang memang tidak suka dengan bau rokok, mengibas-ngibaskan asap yang berhembus ke arahku.

“Punten nya Teh… Teu ngahaja… Memang Teh Tita teu suka ngaroko?” tanya Dadan yang sepertinya menganggap kalau semua perempuan di Jakarta suka merokok atau setidaknya sudah terbiasa dengan asapnya.

“Uhuuuk… Enggak lah Dan… Uhuuk… Uhuuuk…” tegasku sambil terbatuk-batuk karena tanpa sengaja menghirup asap rokok.

“Lamun roko daging kumaha Teh? Hahahahaha…” canda Eman yang langsung disambut gelak tawa teman-temannya.

Tentu saja walaupun aku sudah disetubuhi oleh mereka bertiga, namun pertanyaan Eman tadi tetap membuatku tersipu malu.

Di tengah pembicaraan kami, ketiga anak itu berharap kejadian yang baru saja mereka alami akan dapat terulang di kemudian hari. Setelah cukup lama mengobrol, aku akhirnya berpamitan pulang. Aku pun membersihkan tubuhku sekedarnya lalu berpakaian lengkap.

Dalam perjalanan menuju ke terminal aku cukup tenang karena mereka berbaik hati menemaniku naik angkot. Di dalam bis aku sempat tertidur cukup lama, untung saja barang-barang milikku tidak ada yang hilang.

Sesampainya di depan rumah aku melangkah lemas menuju pintu gerbang karena seluruh badanku terasa sakit dan pegal. Ketika aku sudah berada di ruang tamu ternyata Ibu sedang menungguku dengan gelisah karena tidak mendapat kabar dariku, padahal saat itu waktu telah menunjukkan pukul 10 malam.

“Teh… Kok malem banget pulangnya?” Ibu bertanya dengan suara pelan dan sedikit serak, mungkin karena beliau sudah mengantuk.

“Iya nih Bu… Abisnya tadi keasyikan belanja sih…” aku menjawab sambil menunjukkan kantong belanjaanku.

“Terus HP Teteh kok nggak bisa dihubungin sih?” lanjut ibuku.

“Palingan sinyalnya lagi jelek Bu…” jawabku beralasan lalu bergegas menuju ke kamar tidur.

Biasanya sepulang dari bepergian, aku selalu mencium tangan Ibu terlebih dahulu. Namun hari ini aku merasa kotor dan juga bau sperma yang disemprotkan ke hampir ke seluruh bagian tubuh oleh pengamen-pengamen tadi.

“Teteh udah makan belum?” tanya Ibu yang ternyata ikut menyusulku namun tidak sampai masuk ke dalam.

“Nanti aja Bu… Teteh masih kenyang…” sahutku sambil bersiap menutup pintu supaya Ibu tidak menyadari kalau anaknya sedang berbohong.

Andai saja Ibu dapat melihatku beberapa jam yang lalu, karena hal yang membuatku tidak nafsu makan adalah akibat kelelahan melayani ketiga remaja pengamen tadi.

“Ya udah… Tapi jangan lupa nanti makan ya… Udah Ibu siapin tuh di dapur… Anak kesayangan Ibu jangan sampai sakit yah…” kata ibuku lagi dari balik pintu yang sudah tertutup.

“Iya Bu…!” teriakku sambil sedikit tersenyum karena Ibu masih menganggapku sebagai anak kecil.

Aku lalu mengambil baju ganti serta handuk kemudian bersiap untuk mandi dengan harapan supaya tubuh lelahku dapat kembali segar.

“Aduuuh capek banget…! Besok ijin nggak masuk aja ah…” pikirku saat sedang menikmati guyuran air.

Seusai mandi, aku yang tidak ingat sama sekali kalau sudah berjanji pada Ibu untuk makan malam, langsung masuk ke kamar lalu tertidur pulas seperti bayi.

Jun
11
2011

Cerita Panas Sex Kenikmatan Hasrat Birahi Pak Edo

Posted by admin 0 Responses

Cerita panas ini merupakan hasil dari cerita sex yang di alami oleh seseorang yang tidak mau di sebut namanya. Namun ini adalah pengalaman pribadi yang pernah dialami tentang kenikmatan hasrat birahi pak edo yang juga menjadikan pengalaman ini sangat lebih berarti sekali. Kata dia ini adalah merupakan cerita paling nikmat dan lebih berarti yang pernah dia alami sekarang ini bagaimana ceritanya mari kita simak bareng Aku mengenal pak Edo, seorang duda, ketika dia bekerja di kantorku sebagai tenaga kontrak. Walaupun sudah paruh baya, dia masih nampak ganteng dengan tubuh tegapnya yang atletis. Aku tertarik dengan ketampanannya, apalagi dia sangat perhatian ke aku. Misalnya sesudah aku nikah, rambutku aku cat kepirangan, dia langsung berkomentar bahwa aku lebih cantik dengan rambut hitam. Ini yang membuat aku diam2 menyukainya, bukan sebagai teman tetapi sebagai lelaki dewasa yang berpengalaman. Karena rumahku sejalan dengan rumahnya, aku hampir setiap hari ikut mobilnya, pergi dan pulang. Dalam perjalanan pergi pulang kantor itulah, aku menceritakan problem rumah tanggaku. Setelah menikah, aku tak kunjung hamil, padahal aku sudah sangat mendambakan anak. Dia sering memberi informasi, termasuk tentang siklus datang bulanku. Dia memberi advis untuk menghitung masa suburku, sehingga pada masa subur itulah aku harus ngentot dengan suamiku setiap malam. Masalahnya suamiku itu gila kerja sehingga kalau pulang ke rumah dia sudah loyo karena pekerjaannya. Alhasil paling ngentot dilakukan paling banyak 2 kali seminggu, itu juga ketika week end. Aku suka kesal kalau pada weekend, apalagi pada masa suburku, suamiku sangat terlibat dengan pekerjaannya sehingga dia akan loyo kalau sudah diranjang. Jangan tanya mengenai kepuasan yang seharusnya menjadi hakku karena suamiku tidak tahan lama, maunya langsung masuk dan belum 5 menit sudah ngecret. Karena memang aku sangat mendambakan bisa hamil, aku tidak mempermasalahkan loyonya suamiku di ranjang, buat aku yang penting dia bisa mengecretkan pejunya di dalam memekku.

Sampailah kejadian terakhir yang membuat aku sangat sangat kecewa pada suamiku. Persis pada saat masa suburku, dia harus keluar kota untuk 2 minggu, padahal 2 hari sebelumnya dia baru pulang dari luar kota selama seminggu. Alasannya, dia harus kerja keras untuk mengumpulkan uang buat persiapan punya anak. Uang sih penting, tapi kalau anaknya gak di buat2 ya percuma saja mengumpukan uang banyak2. Aku mengeluh ke pak Edo lewat sms, jawabannya membuat aku kaget. "Kalau PMDN gak bisa coba PMA saja. Aku mau kok mbantuin kamu bikin anak". Aku terdiam karena jawaban tadi. Karena lama tidak aku jawab, masuklah smsnya lagi : "Diam itu artinya mau kan, apalagi kamu kesepian karena suami kamu keluar kota terus. Udah lah, besok pagi jam 8 kamu tunggu aku di mulut komplex kamu". SmSnya tidak ku jawab, dalam hati timbul keraguan apakah aku mau memenuhi ajakannya atau tidak, aku bingung antara mau "membalas" suamiku atau berlaku sebagai isteri yang setia. Aku tertidur dengan keraguanku. Esoknya, pagi2 sudah masuk sms dari pak Edo : "Jangan lupa ya, jam 8an aku tunggu kamu di mulut komplex. Jangan nggak datang ya". Senada dengan sms semalam aku se akan2 tidak diberi kesempatan memilih. Akhirnya karena perasaan kesal ke suami mendominasi pikiranku ditambah dengan rasa sukaku pada dia, aku memutuskan untuk memenuhi ajakannya. Ke kantor aku lapor sakit dan tidak masuk kerja. Jam 8 aku sudah menunggu dimulut komplex dan tak lama lagi dia datang dengan mobilnya. Aku masuk mobilnya. Dia ber seri2 melihat aku pakai tank top ketat sepinggang dan celana ketat juga, sehingga dia bisa melihat lekuk liku bodyku yang proporsional dan dapat mengundang selera lelaki yang melihatnya, termasuk dia yang sudah paruh baya itu. "Wah kamu seksi sekali, sampai pusernya kelihatan". Karena tank top ku sepinggang, maka kalau aku bergerak pinggangku tersingkap dan nampaklah puserku. Aku hanya tersenyum saja : "Kita mau kemana pak?" "Ke apartment temanku ya", jawabnya. Aku hanya terdiam saja sambil membayangkan apa yang akan dilakukannya di apartment kepadaku. Aku tidak banyak bicara selama perjalanan ke apartment. Sesampainya di apartment, Dia memarkir mobilnya ke basement dan kemudian menggandeng aku ke lift. Di dalam lift aku di peluknya. Aku merasa hangat dalam pelukannya, beda sekali dengan suamiku yang dingin sifatnya. "Bapak sering ya ke apartment ini, suka bawa abg ya pak", tanyaku sambil tersenyum. "Suka juga", jawabnya. Tanpa bisa kucegah, padahal dia bukan apa2ku, mendengar jawabannya aku merasa cemburu dengan cewek2 abg yang suka dibawanya ke apartment itu.

Di apartment, kita duduk di sofa, dia mengambilkan minuman dan menyalakan TV. Kami tak banyak bicara karena perhatian tertuju ke tv, tapi aku berdebar2 menunggu apa yang akan terjadi. Akhirnya dia pindah duduk di sampingku, menghadapkan tubuhnya ke arahku dan meletakkan tangan kanannya di atas perutku sambil memasukkan telunjuknya ke puserku yang tersingkap. "Yang, kamu sudah tahu maksudku kan?" katanya lirih di telingaku. Merinding aku mendengarnya memanggil aku yang, dan aku hanya mengangguk. "Ya pak, Sinta tahu, bapak ,,," belum selesai aku menjawab, kurasakan bibirnya sudah menyentuh leherku, terus menyusur ke pipiku. Tubuhnya bergeser merapat, bibirku dilumatnya dengan lembut. Ternyata dicium pria bibir tebal nikmat sekali, aku bisa mengulum bibirnya lebih kuat dan ketebalan bibirnya memenuhi mulutku. Sensasi nikmat yang belum pernah kudapat dari suamiku. Sedang kunikmati lidahnya yang menjelajah di mulutku, kurasakan tangan besarnya menyelusup kedalam tank topku dan meremas lembut toketku yang masih terbungkus bra. Ohh.., toketku ternyata tercakup seluruhnya dalam tangannya. Dan aku rasanya sudah tidak kuat menahan gejolak napsuku, padahal baru awal pemanasan.

Bibirnya mulai meneruskan jelajahannya, sambil melepaskan tank topku, leherku dikecup, dijilat kadang digigit lembut. Sambil tangannya terus meremas-remas toketku. Kemudian tangannya menjalar ke punggungku dan melepas kaitan bra ku sehingga toketku bebas dari penutup. Bibirnya terus menelusur di permukaan kulitku. Dan mulai pentil kiriku tersentuh lidahnya dan dihisap. Terus pindah ke pentil kanan. Kadang-kadang seolah seluruh toketku akan dihisap. Dan tangan satunya mulai turun dan memainkan puserku, terasa geli tapi nikmat, napsuku makin berkobar karena elusan tangannya. Kemudian tangannya turun lagi dan menjamah selangkanganku. Memekku yang pasti sudah basah sekali. Lama hal itu dilakukannya sampai akhirnya dia kemudian membuka ristsluiting celana ku dan menarik celanaku ke bawah, Tinggalah CD miniku ku yang tipis yang memperlihatkan jembutku yang lebat, saking lebatnya jembutku muncul di kiri kanan dan dibagian atas dari cd mini itu. Jembutku lebih terlihat jelas karena CD ku sudah basah karena cairan memekku yang sudah banjir. Dibelainya celah memekku dengan perlahan. Sesekali jarinya menyentuh itilku karena ketika dielus pahaku otomatis mengangkang agar dia bisa mengakses daerah memekku dengan leluasa. Bergetar semua rasanya tubuhku, kemudian CD ku yang sudah basah itu dilepaskannya. Aku mengangkat pantatku agar dia bisa melepas pembungkus tubuhku yang terakhir. Telanjanglah aku dihadapan laki2 yang bukan suamiku untuk pertama kalinya, tapi napsuku sudah membutakan nalarku dan aku sudah lupa dengan cewek2 abg yang pernah dibawanya ke apartment itu, tentunya untuk dientot juga.

Jarinya mulai sengaja memainkan itil-ku. Dan akhirnya jari besar itu masuk ke dalam memekku. Oh, nikmatnya, bibirnya terus bergantian menjilati pentil kiri dan kanan dan sesekali dihisap dan terus menjalar ke perutku. Dan akhirnya sampailah ke memekku. Kali ini diciumnya jembutku yang lebat dan aku rasakan bibir memekku dibuka dengan dua jari. Dan akhirnya kembali memekku dibuat mainan oleh bibir Dia, kadang bibirnya dihisap, kadang itilku, namun yang membuat aku tak tahan adalah saat lidahnya masuk di antara kedua bibir memekku sambil menghisap itilku. Dia benar benar mahir memainkan memekku. Hanya dalam beberapa menit aku benar-benar tak tahan. Dan.. Aku mengejang dan dengan sekuatnya aku berteriak sambil mengangkat pantatku supaya merapatkan itilku dengan mulutnya, kuremas-remas rambutnya yang mulai menampakkan ubannya dibalik cat rambut yang mulai memudar, untuk pertama kalinya aku merasakan nikmatnya nyampe setelah setahun menikah, hanya dengan bibir dan lidahnya. Dia terus mencumbu memekku, rasanya belum puas dia memainkan memekku hingga napsuku bangkit kembali dengan cepat.

"Pak, Sinta sudah pengen dientot." kataku memohon sambil kubuka pahaku lebih lebar. Dia pun bangkit, mengangkat badanku yang sudah lemes dan dibawanya ke kamar. Di kamar, aku dibaringkan di tempat tidur ukuran besar dan dia mulai membuka bajunya, kemudian celananya. Aku terkejut melihat kontolnya yang besar dan panjang nongol dari bagian atas CDnya, gak kebayang ada kontol sebesar punya pak Edo, soalnya kontol yang biasa aku lihat ya kontol suamiku. Kemudian dia juga melepas CD nya. Sementara itu aku dengan berdebar terbaring menunggu dengan semakin berharap. Kontolnya yang besar dan panjang dan sudah maksimal ngacengnya, tegak hampir menempel ke perut. Kontol suamiku yang buat aku rasanya besar, enggak ada apa2nya dibandingkan kontolnya yang menurut aku extra large, aku merinding apakah muat kontol segitu besarnya di memekku yang biasanya cuma kemasukan kontol yang jauh lebih kecil. Dan saat dia pelan-pelan menindihku, aku membuka pahaku makin lebar, rasanya tidak sabar memekku menunggu masuknya kontol extra gede itu. Aku pejamkan mata. Dia mulai mendekapku sambil terus mencium bibirku, kurasakan bibir memekku mulai tersentuh ujung kontolnya. Sebentar diusap-usapkan dan pelan sekali mulai kurasakan bibir memekku terdesak menyamping. Terdesak kontol besar itu. Ohh, benar benar kurasakan penuh dan sesak liang memekku dimasuki kontolnya. Aku menahan nafas. Dan nikmat luar biasa. Mili per mili. Pelan sekali terus masuk kontolnya. Aku mendesah tertahan karena rasa yang luar biasa nikmatnya. Terus.. Terus.. Akhirnya ujung kontol itu menyentuh bagian dalam memekku, maka secara refleks kurapatkan pahaku, tapi betapa aku terkejut. Ternyata sangat mengganjal sekali rasanya, besar, keras dan panjang. Dia terus menciumi bibir dan leherku. Dan tangannya tak henti-henti meremas-remas toketku. Tapi konsentrasi kenikmatanku tetap pada kontol besar yang mulai dienjotkan halus dan pelan. Mungkin dia menyadarinya, supaya aku tidak kesakitan. Aku benar benar cepat terbawa ke puncak nikmat yang belum pernah kualami. Nafasku cepat sekali memburu, terengah-engah. Aku benar benar merasakan nikmat luar biasa merasakan gerakan kontol besar itu. Maka hanya dalam waktu yang singkat aku makin tak tahan. Dan dia tahu bahwa aku semakin hanyut. Maka makin gencar dia melumat bibirku, leherku dan remasan tangannya di toketku makin kuat. Dengan tusukan kontolnya yang agak kuat dan dipepetnya itil-ku dengan menggoyang goyangnya, aku menggelepar, tubuhku mengejang, tanganku mencengkeram kuat-kuat sekenanya. Memekku menegang, berdenyut dan mencengkeram kuat-kuat, benar-benar puncak kenikmatan yang belum pernah kualami. Ohh, aku benar benar menerima kenikmatan yang luar biasa. Aku tak ingat apa-apa lagi kecuali kenikmatan dan kenikmatan. "Paaak, Sinta nyampe paak", Aku sendiri terkejut atas teriakkan kuatku. Setelah selesai, pelan pelan tubuhku lunglai, lemas. Setelah dua kali aku nyampe dalam waktu relatif singkat, namun terasa nyaman sekali, Dia membelai rambutku yang basah keringat. Kubuka mataku, Dia tersenyum dan menciumku lembut sekali, tak henti hentinya toketku diremas-remas pelan.

Tiba tiba, serangan cepat bibirnya melumat bibirku kuat dan diteruskan ke leher serta tangannya meremas-remas toketku lebih kuat. Napsuku naik lagi dengan cepat, saat kembali dia mengenjotkan kontolnya semakin cepat. Uhh, sekali lagi aku nyampe, yang hanya selang beberapa menit, dan kembali aku berteriak lebih keras lagi. Dia terus mengenjotkan kontolnya dan kali ini dia ikut menggelepar, wajahnya menengadah. Satu tangannya mencengkeram lenganku dan satunya menekan toketku. Aku makin meronta-ronta tak karuan. Puncak kenikmatan diikuti semburan peju yang kuat di dalam memekku, menyembur berulang kali. Oh, terasa banyak sekali peju kental dan hangat menyembur dan memenuhi memekku, hangat sekali dan terasa sekali peju yang keluar seolah menyembur seperti air yang memancar kuat. Setelah selesai, dia memiringkan tubuhnya dan tangannya tetap meremas lembut toketku sambil mencium wajahku. Aku senang dengan perlakuannya terhadapku.

"Yang, kamu luar biasa, memekmu peret dan nikmat sekali, mudahan saja pejuku bisa membuat kamu hamil" pujinya sambil membelai dadaku. "Bapak juga hebat. Bisa membuat Sinta nyampe beberapa kali, dan baru kali ini Sinta bisa nyampe dan merasakan kontol raksasa. Hihi.." "Oo gitu ya yang, mungkin karena kamu selama ini gak pernah nyampe yang juga membuat kamu susah hamil. Kalo perempuan nyampe ketika dientot biasanya membantu supaya cepat hamil. Jadi kamu suka dengan kontolku?" godanya sambil menggerakkan kontolnya dan membelai belai wajahku. "Ya pak, kontol Bapak nikmat, besar, panjang dan keras banget" jawabku jujur. Dia memang sangat pandai memperlakukan wanita. Tidak heran banyak cewek2 yang jatuh kepelukannya dan mau dientot. Dia tidak langsung mencabut kontolnya, tapi malah mengajak mengobrol sembari kontolnya makin mengecil. Dan tak henti-hentinya dia menciumku, membelai rambutku dan paling suka membelai toketku. Aku merasakan pejunya yang bercampur dengan cairan memekku mengalir keluar. Setelah cukup mengobrol dan saling membelai, pelan-pelan kontol yang telah menghantarkan aku ke awang awang itu dicabut sambil dia menciumku lembut sekali. Benar benar aku terbuai dengan perlakuannya. Dia kemudian memutar lagu classic sehingga tertidurlah aku dalam pelukannya, merasa nyaman dan benar-benar aku terpuaskan dan merasakan apa yang selama ini hanya kubayangkan saja.

Menjelang siang, aku bangun masih dalam pelukannya. Katanya aku tidur nyenyak sekali, sambil membelai rambutku. Kurang lebih setengah jam kami berbaring berdampingan. Ia lalu mengajakku mandi. Dibimbingnya aku ke kamar mandi, saat berjalan rasanya masih ada yang mengganjal memekku dan ternyata masih ada peju yang mengalir di pahaku, mungkin saking banyaknya dia mengecretkan pejunya di dalam memekku. Dalam bathtub yang berisi air hangat, aku duduk di atas pahanya. Dia mengusap-usap menyabuni punggungku, dan akupun menyabuni punggungnya. Dia memelukku sangat erat hingga dadanya menekan toketku. Sesekali aku menggeliatkan badanku sehingga pentilku bergesekan dengan dadanya yang berbulu dan dipenuhi busa sabun. Pentilku semakin mengeras. Pangkal pahaku yang terendam air hangat tersenggol2 kontolnya. Hal itu menyebabkan napsuku mulai berkobar kembali. Aku di tariknya sehingga menempel lebih erat ke tubuhnya. Dia menyabuni punggungku. Sambil mengusap-usapkan busa sabun, tangannya terus menyusur hingga tenggelam ke dalam air. Dia mengusap-usap pantatku dan diremasnya. Kontolnya pun mulai ngaceng ketika menyentuh memekku. Terasa bibir luar memekku bergesekan dengan kontolnya. Dengan usapan lembut, tapak tangannya terus menyusuri pantatku. Dia mengusap beberapa kali hingga ujung jarinya menyentuh lipatan daging antara lubang pantat dan memekku.

"Bapak nakal!" desahku sambil menggeliat mengangkat pinggulku.

Walau tengkukku basah, aku merasa bulu roma di tengkukku meremang akibat nikmat dan geli yang mengalir dari memekku. Aku menggeliatkan pinggulku. Ia mengecup leherku berulang kali sambil menyentuh bagian bawah bibir memekku. Tak lama kemudian, tangannya semakin jauh menyusur hingga akhirnya kurasakan lipatan bibir luar memekku diusap-usap. Dia berulang kali mengecup leherku. Sesekali lidahnya menjilat, sesekali menggigit dengan gemas. "Aarrgghh.. Sstt.. Sstt.." rintihku berulang kali. Lalu aku bangkit dari pangkuannya. Aku tak ingin nyampe hanya karena jari yang terasa kesat di memekku. Tapi ketika berdiri, kedua lututku terasa goyah. Dengan cepat dia pun bangkit berdiri dan segera membalikkan tubuhku. Dia tak ingin aku terjatuh. Dia menyangga punggungku dengan dadanya. Lalu diusapkannya kembali cairan sabun ke perutku. Dia menggerakkan tangannya keatas, meremas dengan lembut kedua toketku dan pentil ku dijepit2 dengan jempol dan telunjuknya. Pentil kiri dan kanan diremas bersamaan. Lalu dia mengusap semakin ke atas dan berhenti di leherku. "Pak, lama amat menyabuninya" rintihku sambil menggeliatkan pinggulku. Aku merasakan kontolnya semakin keras dan besar. Hal itu dapat kurasakan karena kontolnya makin dalam terselip di pantatku. Tangan kiriku segera meluncur ke bawah, lalu meremas biji pelernya dengan gemas. Dia menggerakkan telapak kanannya ke arah pangkal pahaku. Sesaat dia mengusap usap jembut lebatku, lalu mengusap memekku berulang kali. Jari tengahnya terselip di antara kedua bibir luar memekku. Dia mengusap berulang kali. Itilku pun menjadi sasaran usapannya. "Aarrgghh..!" rintihku ketika merasakan kontolnya makin kuat menekan pantatku. Aku merasa lendir membanjiri memekku. Aku jongkok agar memekku terendam ke dalam air. Kubersihkan celah diantara bibir memekku dengan mengusapkan 2 jariku.

Ketika menengadah kulihat kontolnya telah berada persis didepanku. Kontolnya telah ngaceng berat. "Pak, kuat banget sih bapak, baru aja ngecret di memek Sinta sekarang sudah ngaceng lagi", kataku sambil meremas kontolnya, lalu kuarahkan ke mulutku. Kukecup ujung kepala kontolnya. Tubuhnya bergetar menahan nikmat ketika aku menjilati kepala kontolnya, hal ini belum pernah kulakukan terhadap suamiku. Dia meraih bahuku karena tak sanggup lagi menahan napsunya. Setelah berdiri, kaki kiriku diangkat dan letakkan di pinggir bath tub. Aku dibuatnya menungging sambil memegang dinding di depanku dan dia menyelipkan kepala kontolnya ke celah di antara bibir memekku. "Argh, aarrgghh..,!" rintihku. Dia menarik kontolnya perlahan-lahan, kemudian mendorongnya kembali perlahan-lahan pula. Bibir luar memekku ikut terdorong bersama kontolnya. Perlahan-lahan menarik kembali kontolnya sambil berkata "Enak yang?" ""Enaak banget pak", jawabku!" Dia menenjotkan kontolnya dengan cepat sambil meremas bongkah pantat ku dan tangan satunya meremas toketku. "Aarrgghh..!" rintihku ketika kurasakan kontolnya kembali menghunjam memekku. Aku terpaksa berjinjit karena kontol itu terasa seolah membelah memekku karena besarnya. Terasa memekku sesek kemasukan kontol besar dan panjang itu. Kedua tangannya dengan erat mememegang pinggulku dan dia mengenjotkan kontolnya keluar masuk dengan cepat dan keras. Terdengar 'cepak-cepak' setiap kali pangkal pahanya berbenturan dengan pantatku. "Aarrgghh.., aarrgghh..!Pak.., Sinta nyampe..!" Aku lemas ketika nyampe lagi untuk kesekian kalinya.Rupanya dia juga tidak dapat menahan pejunya lebih lama lagi. "Aarrgghh.., Yang", kata nya sambil menghunjamkan kontolnya sedalam-dalamnya. "Pak.., sstt, sstt.." kataku karena berulangkali ketika merasa tembakan pejunya dimemekku. "Aarrgghh.., Yang, enaknya!" bisiknya ditelingaku. "Pak.., sstt.., sstt..! Nikmat sekali ya dientot Bapak", jawabku karena nikmatnya nyampe. Dia masih mencengkeram pantatku sementara kontolnya masih nancep dimemekku. Beberapa saat kami diam di tempat dengan kontolnya yang masih menancap di memekku. Kemudian Dia membimbingku ke shower, menyalakan air hangat dan kami berpelukan mesra dibawah kucuran air hangat. Akhirnya terasa juga perut lapar yang sudah minta diisi. Setelah selesai dia keluar duluan, sedang aku masih menikmati shower. Selesai dengan rambut yang masih basah dan masih bertelanjang bulat, aku keluar dari kamar mandi. Ternyata Dia sudah menyiapkan makan siang berupa sandwich dan kentang goreng yang dibelinya tadi pagi lengkap dengan soft drink dingin di meja dekat sofa. Aku dipersilakan minum dan makan sambil mengobrol, makan siang dan diiringi lagu lembut. Setelah aku makan, dia lalu memintaku duduk di pangkuannya. Aku menurut saja. Terasa kecil sekali tubuhku. Sambil mengobrol, aku dimanja dengan belaiannya. Akhirnya setelah selesai makan, diraihnya daguku, dan diciumnya bibirku dengan hangatnya, aku mengimbangi ciumannya. Dan selanjutnya kurasakan tangannya mulai meremas-remas lembut toketku, kemudian tangannya menelusuri antara dada dan pahaku. Nikmat sekali rasanya, tapi aku sadar bahwa sesuatu yang aku duduki terasa mulai agak mengeras. Ohh, langsung aku bangkit. Aku bersimpuh di depannya dan ternyata kontolnya sudah mulai ngaceng, walau masih belum begitu mengeras. Kepala kontolnya sudah mulai sedikit mencuat keluar dari kulupnya lalu ku raih, ku belai dan kulupnya kututupkan lagi. Aku suka melihatnya an sebelum penuh ngacengnya langsung aku kulum kontolnya. Aku memainkan kulup kontol yang tebal dengan lidahku. Kutarik kulup ke ujung, membuat kepala kontolnya tertutup kulupnya dan segera kukulum, kumainkan kulupnya dengan lidahku dan kuselipkan lidahku ke dalam kulupnya sambil lidahku berputar masuk di antara kulup dan kepala kontolnya. Enak rasanya. Tapi hanya bisa sesaat, sebab dengan cepatnya kontolnya makin membengkak dan dia mulai menggeliat dan berdesis menahan kenikmatan permainan lidahku dan membuat mulutku semakin penuh. "Pak hebat ya sudah ngaceng lagi, kita lanjut yuk pak", kataku yang juga sudah terangsang. Rupanya dia makin tak tahan menerima rangsangan lidahku. Maka aku ditarik dan diajak ke tempat tidur. Dia menghidupkan lampu sorot di atas tempat tidur. Sebenarnya aku agak malu, tapi sudahlah, paling dia juga ingin melihat dengan jelas memekku. Dan ternyata benar, kakiku ditahannya sambil tersenyum, diteruskan dengan membuka kakiku dan dia langsung menelungkup di antara pahaku. "Aku suka melihat memek kamu yang" ujarnya sambil membelai bulu jembutku yang lebat. "Mengapa?" "Sebab jembutmu lebat dan cewek yang jembutnya lebat napsunya besar, kalau dientot jadi binal seperti kamu, juga tebal bibirnya". Aku merasakan dia terus membelai jembutku dan bibir memekku. Kadang-kadang dicubit pelan, ditarik-tarik seperti mainan. Aku suka memekku dimainkan berlama-lama, aku terkadang melirik apa yang dilakukannya. Seterusnya dengan dua jarinya membuka bibir memekku, aku makin terangsang dan aku merasakan makin banyak keluar cairan dari memekku. Dia terus memainkan memekku seolah tak puas-puas memperhatikan memekku, kadang kadang disentuh sedikit itil-ku, membuat aku penasaran. Tak sadar pinggulku mulai menggeliat, menahan rasa penasaran. Maka saat aku mengangkat pinggulku, langsung disambut dengan bibirnya. Terasa dia menghisap lubang memekku yang sudah penuh cairan. Lidahnya ikut menari kesana kemari menjelajah seluruh lekuk memekku, dan saat dihisapnya itil-ku dengan ujung lidahnya, cepat sekali menggelitik ujung itil-ku, benar benar aku tersentak. Terkejut kenikmatan, membuat aku tak sadar berteriak.. "Aauuhh!!". Benar benar hebat dia merangsangku, dan aku sudah tak tahan lagi. "Ayo dong pak, Sinta pingin dientot lagi" ujarku sambil menarik bantal.

Dia langsung menempatkan tubuhnya makin ke atas dan mengarahkan kontol gedenya ke arah memekku. Aku masih sempat melirik saat dia memegang kontolnya untuk diarahkan dan diselipkan di antara bibir memekku. Kembali aku berdebar karena berharap. Dan saat kepala kontolnya telah menyentuh di antara bibir memekku, aku menahan nafas untuk menikmatinya. Dan dilepasnya dari pegangan saat kepala kontolnya mulai menyelinap di antara bibir memekku dan menyelusup lubang memekku hingga aku berdebar nikmat. Pelan-pelan ditekannya dan dia mulai mencium bibirku lembut. Kali ini aku lebih dapat menikmatinya. Makin ke dalam.. Oh, nikmat sekali. Kurapatkan pahaku supaya kontolnya tidak terlalu masuk ke dalam. Dia langsung menjepit kedua pahaku hingga terasa sekali kontolnya menekan dinding memekku. Kontolnya semakin masuk. Belum semuanya masuk, Dia menarik kembali seolah akan dicabut hingga tak sadar pinggulku naik mencegahnya agar tidak lepas. Beberapa kali dilakukannya sampai akhirnya aku penasaran dan berteriak-teriak sendiri. Setelah dia puas menggodaku, tiba tiba dengan hentakan agak keras, dipercepat gerakan mengenjotnya hingga aku kewalahan. Dan dengan hentakan keras serta digoyang goyangkan, tangan satunya meremas toketku, bibirnya dahsyat menciumi leherku. Akhirnya aku mengelepar-gelepar. Dan sampailah aku kepuncak. Tak tahan aku berteriak, terus Dia menyerangku dengan dahsyatnya, rasanya tak habis-habisnya aku melewati puncak kenikmatan. Lama sekali. Tak kuat aku meneruskannya. Aku memohon, tak kuat menerima rangsangan lagi, benar benar terkuras tenagaku dengan orgasme berkepanjangan.

Akhirnya dia pelan-pelan mengakhiri serangan dahsyatnya. Aku terkulai lemas sekali, keringatku bercucuran. Hampir pingsan aku menerima kenikmatan yang berkepanjangan. Benar-benar aku tidak menyesal ngentot dengan dia, dia memang benar-benar hebat dan mahir dalam ngentot, dia dapat mengolah tubuhku menuju kenikmatan yang tiada tara, atau memang aku yang kurang pengalaman dalam ngentot di tempat tidur, sebab memang suamiku belum pernah memberikan kenikmatan seperti sekarang ini ketika mengentoti aku. Lamunanku lepas saat pahanya mulai kembali menjepit kedua pahaku dan dirapatkan, tubuhnya menindihku serta leherku kembali dicumbu. Kupeluk tubuhnya yang besar dan tangannya kembali meremas toketku. Pelan-pelan mulai dienjotkan kontolnya. Kali ini aku ingin lebih menikmati seluruh rangsangan yang terjadi di seluruh bagian tubuhku. Tangannya terus menelusuri permukaan tubuhku. Dadanya yang berbulu merangsang dadaku setiap kali bergeseran mengenai pentilku. Dan kontolnya dipompakan dengan sepenuh perasaan, lembut sekali, bibirnya menjelajah leher dan bibirku. Ohh, luar biasa. Lama kelamaan tubuhku yang semula lemas, mulai terbakar lagi. Aku berusaha menggeliat, tapi tubuhku dipeluk cukup kuat, hanya tanganku yang mulai menggapai apa saja yang kudapat. Dia makin meningkatkan cumbuannya dan memompakan kontolnya makin cepat. Gesekan di dinding memekku makin terasa. Dan kenikmatan makin memuncak. Maka kali ini leherku digigitnya agak kuat dan dimasukkan seluruh batang kontolnya serta digoyang-goyang untuk meningkatkan rangsangan di itil-ku. Maka jebol lah bendungan, aku mencapai puncak kembali. Kali ini terasa lain, tidak liar seperti tadi. Puncak kenikmatan ini terasa nyaman dan romantis sekali, tapi tiba tiba dia dengan cepat mengenjot lagi. Kembali aku berteriak sekuatku menikmati ledakan orgasme yang lebih kuat, aku meronta sekenaku. Gila, batinku, dia benar-benar membuat aku kewalahan. Kugigit pundaknya saat aku dihujani dengan kenikmatan yang bertingkat-tingkat. Sesaat dia menurunkan gerakannya, tapi saat itu dibaliknya tubuhku hingga aku di atas tubuhnya. Aku terkulai di atas tubuhnya.

Dengan sisa tenagaku aku keluarkan kontolnya dari memekku. Dan kuraih batang kontolnya. Tanpa pikir panjang, kontol yang masih berlumuran cairan memekku sendiri kukulum dan kukocok. Dan pinggulku diraihnya hingga akhirnya aku telungkup di atasnya lagi dengan posisi terbalik. Kembali memekku yang berlumuran cairan jadi mainannya, aku makin bersemangat mengulum dan menghisap sebagian kontolnya. Dipeluknya pinggulku hingga sekali lagi aku orgasme. Dihisapnya itil-ku sambil ujung lidahnya menari cepat sekali. Tubuhku mengejang dan kujepit kepalanya dengan kedua pahaku dan kurapatkan pinggulku agar bibir memekku merapat ke bibirnya. Ingin aku berteriak tapi tak bisa karena mulutku penuh, dan tanpa sadar aku menggigit agak kuat kontolnya dan kucengkeram kuat dengan tanganku saat aku masih menikmati orgasme. "Yang, aku mau ngecret yang, di dalam memekmu ya", katanya sambil menelentangkan aku. "Ya,pak", jawabku. Dia menaiki aku dan dengan satu hentakan keras, kontolnya yang besar sudah kembali menyesaki memekku. Dia langsung mengenjot kontolnya keluar masuk dengan cepat dan keras. Dalam beberapa enjotan saja tubuhnyapun mengejang. Pantat kuhentakkan ke atas dengan kuat sehingga kontolnya nancap semuanya ke dalam memekku dan akhirnya crot .. crot ..crot, pejunya muncrat dalam beberapa kali semburan kuat. Herannya, ngecretnya yang ketiga masih saja pejunya keluar banyak, memang luar biasa stamina pak Edo. Dia menelungkup diatasku sambil memelukku erat2. "Yang, nikmat sekali ngentot sama kamu, memek kamu kuat sekali cengkeramannya ke kontolku", bisiknya di telingaku. "Ya pak, Sinta juga nikmat sekali, tentu saja cengkeraman memek Sinta terasa kuat karena kontol bapak kan gede banget. Rasanya sesek deh memek Sinta kalau bapak neken kontolnya masuk semua. Kalau ada kesempatan, Sinta dientot lagi ya pak", jawabku. "Ya sayang", lalu bibirku diciumnya dengan mesra.

May
13
2011